MAKALAH
Strategi Pembelajaran Aqidah Akhlak MI
Disusun guna Memenuhi Tugas Mata KuliahPembelajaran Aqidah Akhlak
Semester Gasal
Dosen Pengampu: H. Muhammad Ali Yahya, S.Ag., M.Pd.
Disusun oleh Kelompok 2:
1. Halimatussa’diah (16103*****)
2. Devi Trijayana (16103*****)
3. Latifatul Munawwaroh (16103*****)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH BTIDAIYAH
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah
merupakan salah satu mata pelajaran PAI yang menekankan pada kemampuan memahami
dan mempertahankan keyakinan/keimanan yang benar serta menghayati dan
mengamalkan nilai-nilai asma’ul husna, serta penciptaan suasana keteladanan dan
pembiasaan dalam mengamalkan akhlak terpuji dan adab islami melalui pemberian
contoh-contoh perilaku dan cara mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, pendidikan Aqidah Akhlak bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang
agama, akan tetapi bagaimana membentuk kepribadian siswa agar memiliki keimanan
dan ketakwaan yang kuat dan kehidupanya dihiasi dengan akhlak yang mulia
dimanapun mereka berada.
Dalam
pembelajaran Akidah Akhlak khususnya pada tingkat MI, yang mana diketahui bahwa
pada tingkat ini anak masih belum dewasa dan belum dapat dengan bijaksana
memahami materi dalam Aqidah Akhlak, maka diperlukan pemilihan dan penetapan strategi
pembelajaran yang optimal guna mencapai perolehan belajar sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan. Untuk itulah makalah dengan judul strategi
pembelajaran Aqidah Akhlak MI guna membantu kita sebagai calon guru agar dapat
menentukan dengan tepat strategi pembelajaran Aqidah Akhlak yang sesuai untuk
anak MI.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
pengertian dan tujuan strategi
pembelajaran Aqidah
Akhlak?
2.
Strategi apa
saja yang ditempuh dalam pembelajaran Aqidah
Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah?
3.
Bagaimana strategi pembelajaran Akidah Akhlak dalam
perspektif Imam Ghozali?
C.
Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas,
maka tujuan penulisan makalah ini antara lain :
1.
Untuk mengetahui
pengertian dan tujuan strategi
pembelajaran Akidah Akhlak.
2.
Untuk mengetahui strategi apa saja yang ditempuh dalam
pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah.
3.
Untuk mengetahui strategi pembelajaran Akidah Akhlak dalam
perspektif Imam Ghozali.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian dan TujuanStrategi Pembelajaran Aqidah
Akhlak
1. Pengertian
Istilah
strategi berasal dari bahasa Yunani strategia yang berarti sebuah
perencanaan yang panjang untuk berhasil dalam mencapai suatu keuntungan.[1]Strategi
dapat diartikan sebagai a plan of operation achieving something “rencana
kegiatan untuk mencapai sesuatu.”[2] Sedangkan
pembelajaran adalah suatu proses yang
kompleks (rumit) dengan maksud memberi pengalaman belajar kepada siswa sesuai
dengan tujuan. Tujuan yang hendak dicapai sebenarnya merupakan acuan dalam
penyelenggaraan proses pembelajaran.[3]
Selanjutnya
adalah Aqidah. Menurut bahasa Aqidah berasal dari bahasa arab yaitu Aqodah yang berarti ikatan atau perjanjian. Dan akhlak, dalam bahasa
Arab yaitu, Al-akhlak jamak dari khulq yang
berarti kebiasaan, perangai dan tabiat, atau tingkah laku yang lahir dari
manusia secara sengaja, tidak dibuat-buat dan telah menjadi kebiasaan.[4] Akhlak
ialah sifat yang tertanam dalam jiwa dan mendorong perbuatan spontan tanpa
memerlukan pertimbangan pikiran.[5]
Maka,
ketika kata strategi, pembelajaran, dan juga aqidah akhlak digabungkan, berarti
suatu perencanaan yang sadar dan terencana dalam menyiapkan dan memberi
pengalaman belajar peserta didik untuk mengenal, memahami, mengahayati dan
mengimani Allah dan merealisasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam
kehidupan sehari-hari.
Sehingga
dapat dijelaskan bahwa Pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah
merupakan salah satu mata pelajaran PAI yang menekankan pada kemampuan memahami
dan mempertahankan keyakinan atau keimanan yang benar, mempelajari bagaimana
tata cara berinteraksi dengan manusia (habluminannas) serta hubungan
manusia dengan sang khalik (habluminallah). Dengan ini diharapkan siswa
tertanam keteladanan dan pembiasaan dalam mengamalkan akhlak terpuji dan adab
islami melalui pemberian contoh-contoh perilaku dan cara mengamalkannya dalam
kehidupan sehari-hari.[6]
2. Tujuan
Tujuan
daripada adanya strategi pembelajaran dari Aqidah Akhlak terdapat dalam QS.
An-Nahl: 125.
ادْعُ Ø¥ِÙ„َÙ‰ سَبِيلِ رَبِّÙƒَ بِالْØِÙƒْÙ…َØ©ِ ÙˆَالْÙ…َÙˆْعِظَØ©ِ
الْØَسَÙ†َØ©ِ ÙˆَجَادِÙ„ْÙ‡ُÙ…ْ بِالَّتِÙŠ Ù‡ِÙŠَ Ø£َØْسَÙ†ُ Ø¥ِÙ†َّ رَبَّÙƒَ Ù‡ُÙˆَ Ø£َعْÙ„َÙ…ُ
بِÙ…َÙ†ْ ضَÙ„َّ عَÙ†ْ سَبِيلِÙ‡ِ ÙˆَÙ‡ُÙˆَ Ø£َعْÙ„َÙ…ُ بِالْÙ…ُÙ‡ْتَدِينَ
“Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan
berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah
yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa manusia diperintahkan untuk menyeru kepada jalan kebaikan dengan hikmah dan
pengajaran yang baik. Hikmah dan pengajaran yang baik inilah yang disebut
strategi. Jadi, bisa dikatakan bahwa strategi adalah sesuatu yang sangat
penting dalam suatu pembelajaran. Kerena tanpa adanya strategi yang
tepat pada, nantinya pembelajaran tidak akan
dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Adapun tujuan pembelajaran
Aqidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah menurut Permenag No. 2 Tahun 2008, sebagai
berikut:[7]
a.
Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan
pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta
didik tentang akidah Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus
berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.
b.
Mewujudkan manusia Indonesia yang berakhlak mulia dan menghindari akhlak
tercela dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan individu maupun
sosial, sebagai manifestasi dari ajaran dan nilai-nilai akidah Islam.
B.
Strategi yang Ditempuh dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak
di Madrasah Ibtidaiyah
Aqidah akhlak merupakan mata pelajaran yang memiliki
kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempraktikkan
akhlak al karimah dan adab Islam dalam kehidupan sehari-hari sebagai
menifestasi dari keimanannya kepada Allah swt., malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya,
Rasul-Nya, serta Qada dan Qadar. Untuk itu demi mencapai tujuan dalam
peningkatan keimanan dan pembentukan akhlak al karimah siswa, diperlukan
strategi yang tepat dalam pembelajaran Aqidah Akhlak ini.
Strategi
Pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian,
yaitu:
1.
Exposition-discovery learning
Exposition
learning (langsung) Adalah strategi pembelajaran yang cenderung menggunakan
cara menjelaskan secara terperinci materi yang akan dipelajari.[8] Artinya,
dalam penyampain materi Aqidah Akhlak, guru secara langsung menyampaikan
bertatap muka dengan siswa. Strategi yang demikian ini dapat ditempuh dengan
berbagai metode, salah satunya adalah dengan metode ceramah.
Sedangkan
pembelajaran
discovery learning (tidak langsung) strategi pembelajarannya cenderung meminta siswa untuk melakukan observasi,
eksperimen, atau tindakan ilmiah hingga mendapatkan kesimpulan dari hasil
ilmiah tersebut.[9]
Pada strategi ini, menekankan agar siswa dapat mencari tahu dan menyimpulkan
sendiri intisari yang terkandung dalam suatu pembelajaran. Contohnya dalam
pembelajaran
Aqidah Akhlak yakni pada materi adab
islam. Dalam materi adab islam ini, guru dapat memasukkan metode “bermain
peran” yang mana, siswa akan memperagakan suatu drama kecil di depan kelas. Dan
dari drama tersebut siswa bisa
menyimpulkan sendiri amanat apa
yang bisa mereka petik dari drama yang telah mereka mainkan tadi.
2.
Group-individual learning
Group
Adalah strategi pembelajaran melibatkan lebih dari satu siswa yang dibagi dalam
kelompok. Sedangkan individual learning strategi adalah pembelajaran
individual.[10]
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa strategi
pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya
digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu.
C.
Strategi Pembelajaran Akidah Akhlak dalam Perspektif Imam
Ghazali
Nama
lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali
Ath-Thusi An-Naysaburi. Al-Ghazali adalah seorang pemikir dan ulama besar
dengan hasil karya dalam berbagai bidang ilmu seperti ilmu agama, filsafat, tasawuf,
akhlak, politik, dan lainnya. Karya terbesar dari imam Al-Ghazali adalah kitab
Ihya ‘Ulum Ad-Din, dimana pendidikan menurut Al-Ghazali merupakan suatu proses
kegiatan yang dilakukan secara sistematis untuk melahirkan perubahan yang progresif
pada tingkah laku manusia.[11]
Dalam
pandangan Al-Ghazali, sentral dalam pendidikan adalah hati sebab hati merupakan
esensi dari manusia karena substansi manusia bukanlah terletak pada unsur-unsur
yang ada pada fisiknya, melainkan berada pada hatinya dan memandang manusia
bersifat teosentris sehingga konsep tentang pendidikannya lebih diarahkan pada
pembentukan akhlak yang mulia. menghilangkan akhlak yang buruk dan menanamkan
akhlak yang baik. Dengan demikian pendidikan merupakan suatu proses kegiatan
yang dilakukan secara sistematis untuk melahirkan perubahan yang progresif pada
tingkah laku manusia. Dalam pandangan Al-Ghazali, sentral dalam pendidikan
adalah hati sebab hati merupakan esensi dari manusia karena substansi manusia
bukanlah terletak pada unsur-unsur yang ada pada fisiknya, melainkan berada
pada hatinya dan memandang manusia bersifat teosentris sehingga konsep tentang
pendidikannya lebih diarahkan pada pembentukan akhlak yang mulia.[12]
Ghazali
berpendapat bahwa pendidikan agama harus mulai diajarkan kepada anak-anak
sedini mungkin. Sebab dalam tahun-tahun tersebut, seorang anak mempunyai
persiapan menerima kepercayaan agama semata-mata dengan mengimankan saja dan
tidak dituntut untuk mencari dalilnya. Sementara itu berkaitan dengan
pendidikan akhlak, pengajaran harus mengarah kepada pembentukan akhlak yang
mulia. AlGhazali mengatakan bahwa akhlak adalah suatu sikap yang mengakar di
dalam jiwa yang akan melahirkan berbagai perbuatan baik dengan mudah dan
gampang tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan.[13]
Dalam karya monumentalnya dalam kitab Ihya Ulum Ad-Din, Al-Ghazali menggunakan
dua metode yang dapat ditempuh dalam pembentukan akhlak yang baik yaitu:[14]
1.
Riyadah; melatih peserta didik
untuk membiasakan dirinya pada budi pekerti yang baik melalui pembiasaan.
2.
Pengalaman /At-tajribah;
memperkenalkan kekurangan-kekurangan yang dimiliki peserta didik secara
langsung tanpa melalui teori dengan beberapa cara yaitu; berteman dengan orang
yang berbudi pekerti yang baik, mengambil pelajaran dari lawan dengan
mengetahui kekurangan untuk perbaikan, dan belajar langsung dari masyarakat
secara umum. Memperhatikan perkembangan kepribadian peserta didik sesuai dengan
perkembangan jiwa dan intelektualnya.
Al-Ghazali
mendefinisikan akhlak sebagai suatu sikap yang mengakar dalam jiwa yang darinya
lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang, tanpa perlu pemikiran dan
pertimbangan. Berangkat dari pengertian tersebut, maka pendidikan apapun
menurut al-Ghazali harus mengarah kepada pembentukan akhlak yang mulia.[15]
Dalam hal akhlak ini, al-Ghazali mengidentikan antara
guru dengan seorang dokter. Al-Ghazali berkata: “Sebagai seorang dokter,
jikalau mengobati semua orang sakit dengan satu obat saja , niscaya akan
membunuh kebanyakan orang sakit, maka begitupula guru. Jikalau menunjukkan
jalan kepada murid dengan satu macam saja dari latihan, niscaya membinasakan
dan mematikan hati mereka. Tentang keadaan umurnya, sifat tubuhnya, dan latihan
apa yang disanggupinya. Dan berdasar yang demikian dibina latihan.”[16]
Dapat diketahui bahwa strategi pembelajaran agama, baik itu juga termasuk
Aqidah Akhlak yang diperuntukkan untuk anak usia dini, yakni termasuk di
dalamnya adalah anak usia Madrasah Ibtidaiyah, harus disesuaikan dengan usia
anak. Strategi
pembelajaran yang di lakukan guru harus berbeda,
karena kemampuan berfikir serta menerima antara anak usia rendah atau kelas
rendah berbeda dengan anak usia tinggi atau kelas tinggi.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Strategi pembelajaran Aqidah Akhlak adalah suatu perencanaan yang sadar dan terencana dalam menyiapkan
dan memberi pengalaman belajar peserta didik untuk mengenal, memahami,
mengahayati dan mengimani Allah dan merealisasikannya dalam perilaku akhlak
mulia dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan daripada Strategi pembelajaran Aqidah Akhlak sendiri dapat dilihat dalam QS.
An-Nahl ayat 125.
Strategi
Pembelajaran yang dilakukan dalam
pembelajaran Aqidah Akhlak yakni,
yang pertama adalah Exposition-discovery learning (pembelajaran langsung-tidak
langsung). Dengan pembelajaran langsung, guru yang langsung menyampaikan materi
pada siswa, sedangkan dalam pembelajaran tidak langsung, siswalah yang
menyimpulkan sendiri intisari dalam sebuah pembelajaran dengan guru hanya
sebagai fasilitatornya. Dan yang kedua Group-individual learning. Pembelajaran akah dilakukan menjadi beberapa kelompok
atau secara individu.
Al-Ghazali, berpendapat bahwa strategi
pembelajaran agama (termasuk di
dalamnya adalah Aqidah Akhlak) itu diidentikan antara guru dengan seorang dokter. Menurutnya,
strategi yang dilakukan haruslah disesuaikan dengan usia anak,
hal tersebut karena karena kemampuan berfikir serta menerima antara anak usia
rendah atau kelas rendah berbeda dengan anak usia tinggi atau kelas tinggi.
B. Saran
Makalah ini disusun agar kita
sebagai calon guru dapat menentukan dengan tepat strategi pembelajaran Aqidah
Akhlak yang seperti apa yang sesuai untuk anak MI. Penulis
menyarankan untuk membaca dengan seksama agar dapat memahaminya dengan baik isi dari makalah kami. Penulisan makalah ini masih jauh dari
kata sempurna, sehinggah saran yang membangun kami butuhkan untuk membuat karya
kami menjadi lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Efendi. 2015. Konsep Pemikiran Edward
L. Thorndike Behavioristik dan Imam Al-Ghazali Akhlak. Jakarta: Guepedia.
Fadli, Adi. 2017.
Konsep Pendidikan Imam Al-Ghazali dan Relevansinya dalam Sistem Pendidikan
di Indonesia, Vol. X, No. 2.
Kurniawati, Fitri Erning. 2015. Pengembangan Bahan Ajar Aqidah Ahklak di Madrasah
Ibtidaiyah, Jurnal
Penelitian, Vol. 9, No. 2.
Lampiran
Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 Tentang
Standar Kompetensi Lulusan Dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam Dan Bahasa
Arab Di Madrasah.
Majid, Abdul. 2014. Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Saifuddin. 2018. Pengelolaan Pembelajaran Teoritis dan Prakti. Yogyakarta:
Deepublish.
Yamin, Martinis. 2013. Strategi dan Metode dalam Model Pembelajaran.
Jakarta: Referensi Gaung Persada Group.
Zaini, Hisyam. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta : CTSD.
[1]Martinis Yamin, Strategi
dan Metode dalam Model Pembelajaran, (Jakarta: Referensi Gaung Persada
Group, 2013), hlm. 1.
[2]Abdul Majid, Belajar
dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2014), cet. 4., hlm. 129.
[6] Fitri Erning
Kurniawati, 2015, Pengembangan
Bahan Ajar Aqidah Ahklak di Madrasah Ibtidaiyah, Jurnal Penelitian, Vol. 9, No. 2,hlm. 369.
[7] Lampiran Peraturan Menteri Agama Republik
Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Standar Kompetensi Lulusan
Dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam Dan Bahasa Arab Di Madrasah.
[8] Saifuddin, Pengelolaan Pembelajaran Teoritis dan Praktis,
(Yogyakarta: Deepublish, 2018), cet. 1., hlm. 108.
[11] Adi Fadli, 2017, Konsep Pendidikan Imam
Al-Ghazali dan Relevansinya dalam Sistem Pendidikan di Indonesia, Vol. X,
No. 2., hlm. 226-227.
[15] Efendi, Konsep Pemikiran Edward L. Thorndike Behavioristik dan Imam
Al-Ghazali Akhlak, (Jakarta: Guepedia, 2015), hlm. 73.

