Minggu, 03 Mei 2020

Makalah Strategi Pembelajaran Aqidah Akhlak MI

MAKALAH
Strategi Pembelajaran Aqidah Akhlak MI
Disusun guna Memenuhi Tugas Mata KuliahPembelajaran Aqidah Akhlak
Semester Gasal
Dosen Pengampu: H. Muhammad Ali Yahya, S.Ag., M.Pd.

Disusun oleh Kelompok 2:
1.      Halimatussa’diah                 (16103*****)
2.      Devi Trijayana                      (16103*****)
3.      Latifatul Munawwaroh        (16103*****)

 

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH BTIDAIYAH
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah merupakan salah satu mata pelajaran PAI yang menekankan pada kemampuan memahami dan mempertahankan keyakinan/keimanan yang benar serta menghayati dan mengamalkan nilai-nilai asma’ul husna, serta penciptaan suasana keteladanan dan pembiasaan dalam mengamalkan akhlak terpuji dan adab islami melalui pemberian contoh-contoh perilaku dan cara mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pendidikan Aqidah Akhlak bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang agama, akan tetapi bagaimana membentuk kepribadian siswa agar memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat dan kehidupanya dihiasi dengan akhlak yang mulia dimanapun mereka berada.
Dalam pembelajaran Akidah Akhlak khususnya pada tingkat MI, yang mana diketahui bahwa pada tingkat ini anak masih belum dewasa dan belum dapat dengan bijaksana memahami materi dalam Aqidah Akhlak, maka diperlukan pemilihan dan penetapan strategi pembelajaran yang optimal guna mencapai perolehan belajar sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Untuk itulah makalah dengan judul strategi pembelajaran Aqidah Akhlak MI guna membantu kita sebagai calon guru agar dapat menentukan dengan tepat strategi pembelajaran Aqidah Akhlak yang sesuai untuk anak MI.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengertian dan tujuan strategi pembelajaran Aqidah Akhlak?
2.      Strategi apa saja yang ditempuh dalam pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah?
3.      Bagaimana strategi pembelajaran Akidah Akhlak dalam perspektif Imam Ghozali?

C.     Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini antara lain :
1.      Untuk mengetahui pengertian dan tujuan strategi pembelajaran Akidah Akhlak.
2.      Untuk mengetahui strategi apa saja yang ditempuh dalam pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah.
3.      Untuk mengetahui strategi pembelajaran Akidah Akhlak dalam perspektif Imam Ghozali.




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian dan TujuanStrategi Pembelajaran Aqidah Akhlak
1.      Pengertian
Istilah strategi berasal dari bahasa Yunani strategia yang berarti sebuah perencanaan yang panjang untuk berhasil dalam mencapai suatu keuntungan.[1]Strategi dapat diartikan sebagai a plan of operation achieving something “rencana kegiatan untuk mencapai sesuatu.”[2] Sedangkan pembelajaran adalah suatu proses yang kompleks (rumit) dengan maksud memberi pengalaman belajar kepada siswa sesuai dengan tujuan. Tujuan yang hendak dicapai sebenarnya merupakan acuan dalam penyelenggaraan proses pembelajaran.[3]
Selanjutnya adalah Aqidah. Menurut bahasa Aqidah berasal dari bahasa arab yaitu Aqodah yang berarti ikatan atau perjanjian. Dan akhlak, dalam bahasa Arab yaitu, Al-akhlak jamak dari khulq yang berarti kebiasaan, perangai dan tabiat, atau tingkah laku yang lahir dari manusia secara sengaja, tidak dibuat-buat dan telah menjadi kebiasaan.[4] Akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa dan mendorong perbuatan spontan tanpa memerlukan pertimbangan pikiran.[5]
Maka, ketika kata strategi, pembelajaran, dan juga aqidah akhlak digabungkan, berarti suatu perencanaan yang sadar dan terencana dalam menyiapkan dan memberi pengalaman belajar peserta didik untuk mengenal, memahami, mengahayati dan mengimani Allah dan merealisasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Sehingga dapat dijelaskan bahwa Pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah merupakan salah satu mata pelajaran PAI yang menekankan pada kemampuan memahami dan mempertahankan keyakinan atau keimanan yang benar, mempelajari bagaimana tata cara berinteraksi dengan manusia (habluminannas) serta hubungan manusia dengan sang khalik (habluminallah). Dengan ini diharapkan siswa tertanam keteladanan dan pembiasaan dalam mengamalkan akhlak terpuji dan adab islami melalui pemberian contoh-contoh perilaku dan cara mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.[6]
2.      Tujuan
Tujuan daripada adanya strategi pembelajaran dari Aqidah Akhlak terdapat dalam QS. An-Nahl: 125.
ادْعُ Ø¥ِÙ„َÙ‰ سَبِيلِ رَبِّÙƒَ بِالْØ­ِÙƒْÙ…َØ©ِ ÙˆَالْÙ…َÙˆْعِظَØ©ِ الْØ­َسَÙ†َØ©ِ ÙˆَجَادِÙ„ْÙ‡ُÙ…ْ بِالَّتِÙŠ Ù‡ِÙŠَ Ø£َØ­ْسَÙ†ُ Ø¥ِÙ†َّ رَبَّÙƒَ Ù‡ُÙˆَ Ø£َعْÙ„َÙ…ُ بِÙ…َÙ†ْ ضَÙ„َّ عَÙ†ْ سَبِيلِÙ‡ِ ÙˆَÙ‡ُÙˆَ Ø£َعْÙ„َÙ…ُ بِالْÙ…ُÙ‡ْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa manusia diperintahkan untuk menyeru kepada jalan kebaikan dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Hikmah dan pengajaran yang baik inilah yang disebut strategi. Jadi, bisa dikatakan bahwa strategi adalah sesuatu yang sangat penting dalam suatu pembelajaran. Kerena tanpa adanya strategi yang tepat pada, nantinya pembelajaran tidak akan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Adapun tujuan pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah menurut Permenag No. 2 Tahun 2008, sebagai berikut:[7]
a.       Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang akidah Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.
b.      Mewujudkan manusia Indonesia yang berakhlak mulia dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan individu maupun sosial, sebagai manifestasi dari ajaran dan nilai-nilai akidah Islam.
B.     Strategi yang Ditempuh dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah
Aqidah akhlak merupakan mata pelajaran yang memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempraktikkan akhlak al karimah dan adab Islam dalam kehidupan sehari-hari sebagai menifestasi dari keimanannya kepada Allah swt., malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-Nya, serta Qada dan Qadar. Untuk itu demi mencapai tujuan dalam peningkatan keimanan dan pembentukan akhlak al karimah siswa, diperlukan strategi yang tepat dalam pembelajaran Aqidah Akhlak ini.
Strategi Pembelajaran  dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu:
1.      Exposition-discovery learning
Exposition learning (langsung) Adalah strategi pembelajaran yang cenderung menggunakan cara menjelaskan secara terperinci materi yang akan dipelajari.[8] Artinya, dalam penyampain materi Aqidah Akhlak, guru secara langsung menyampaikan bertatap muka dengan siswa. Strategi yang demikian ini dapat ditempuh dengan berbagai metode, salah satunya adalah dengan metode ceramah.
Sedangkan pembelajaran discovery learning (tidak langsung) strategi pembelajarannya cenderung meminta siswa untuk melakukan observasi, eksperimen, atau tindakan ilmiah hingga mendapatkan kesimpulan dari hasil ilmiah tersebut.[9] Pada strategi ini, menekankan agar siswa dapat mencari tahu dan menyimpulkan sendiri intisari yang terkandung dalam suatu pembelajaran. Contohnya dalam pembelajaran Aqidah Akhlak yakni pada materi adab islam. Dalam materi adab islam ini, guru dapat memasukkan metode “bermain peran” yang mana, siswa akan memperagakan suatu drama kecil di depan kelas. Dan dari drama tersebut siswa bisa menyimpulkan sendiri amanat apa yang bisa mereka petik dari drama yang telah mereka mainkan tadi.
2.      Group-individual learning
Group Adalah strategi pembelajaran melibatkan lebih dari satu siswa yang dibagi dalam kelompok. Sedangkan individual learning strategi adalah pembelajaran individual.[10]
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu.
C.    Strategi Pembelajaran Akidah Akhlak dalam Perspektif Imam Ghazali
Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi An-Naysaburi. Al-Ghazali adalah seorang pemikir dan ulama besar dengan hasil karya dalam berbagai bidang ilmu seperti ilmu agama, filsafat, tasawuf, akhlak, politik, dan lainnya. Karya terbesar dari imam Al-Ghazali adalah kitab Ihya ‘Ulum Ad-Din, dimana pendidikan menurut Al-Ghazali merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan secara sistematis untuk melahirkan perubahan yang progresif pada tingkah laku manusia.[11]
Dalam pandangan Al-Ghazali, sentral dalam pendidikan adalah hati sebab hati merupakan esensi dari manusia karena substansi manusia bukanlah terletak pada unsur-unsur yang ada pada fisiknya, melainkan berada pada hatinya dan memandang manusia bersifat teosentris sehingga konsep tentang pendidikannya lebih diarahkan pada pembentukan akhlak yang mulia. menghilangkan akhlak yang buruk dan menanamkan akhlak yang baik. Dengan demikian pendidikan merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan secara sistematis untuk melahirkan perubahan yang progresif pada tingkah laku manusia. Dalam pandangan Al-Ghazali, sentral dalam pendidikan adalah hati sebab hati merupakan esensi dari manusia karena substansi manusia bukanlah terletak pada unsur-unsur yang ada pada fisiknya, melainkan berada pada hatinya dan memandang manusia bersifat teosentris sehingga konsep tentang pendidikannya lebih diarahkan pada pembentukan akhlak yang mulia.[12]
Ghazali berpendapat bahwa pendidikan agama harus mulai diajarkan kepada anak-anak sedini mungkin. Sebab dalam tahun-tahun tersebut, seorang anak mempunyai persiapan menerima kepercayaan agama semata-mata dengan mengimankan saja dan tidak dituntut untuk mencari dalilnya. Sementara itu berkaitan dengan pendidikan akhlak, pengajaran harus mengarah kepada pembentukan akhlak yang mulia. AlGhazali mengatakan bahwa akhlak adalah suatu sikap yang mengakar di dalam jiwa yang akan melahirkan berbagai perbuatan baik dengan mudah dan gampang tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan.[13] Dalam karya monumentalnya dalam kitab Ihya Ulum Ad-Din, Al-Ghazali menggunakan dua metode yang dapat ditempuh dalam pembentukan akhlak yang baik yaitu:[14]
1.      Riyadah; melatih peserta didik untuk membiasakan dirinya pada budi pekerti yang baik melalui pembiasaan.
2.      Pengalaman /At-tajribah; memperkenalkan kekurangan-kekurangan yang dimiliki peserta didik secara langsung tanpa melalui teori dengan beberapa cara yaitu; berteman dengan orang yang berbudi pekerti yang baik, mengambil pelajaran dari lawan dengan mengetahui kekurangan untuk perbaikan, dan belajar langsung dari masyarakat secara umum. Memperhatikan perkembangan kepribadian peserta didik sesuai dengan perkembangan jiwa dan intelektualnya.
Al-Ghazali mendefinisikan akhlak sebagai suatu sikap yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang, tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan. Berangkat dari pengertian tersebut, maka pendidikan apapun menurut al-Ghazali harus mengarah kepada pembentukan akhlak yang mulia.[15]
Dalam hal akhlak ini, al-Ghazali mengidentikan antara guru dengan seorang dokter. Al-Ghazali berkata: “Sebagai seorang dokter, jikalau mengobati semua orang sakit dengan satu obat saja , niscaya akan membunuh kebanyakan orang sakit, maka begitupula guru. Jikalau menunjukkan jalan kepada murid dengan satu macam saja dari latihan, niscaya membinasakan dan mematikan hati mereka. Tentang keadaan umurnya, sifat tubuhnya, dan latihan apa yang disanggupinya. Dan berdasar yang demikian dibina latihan.”[16] Dapat diketahui bahwa strategi pembelajaran agama, baik itu juga termasuk Aqidah Akhlak yang diperuntukkan untuk anak usia dini, yakni termasuk di dalamnya adalah anak usia Madrasah Ibtidaiyah, harus disesuaikan dengan usia anak. Strategi pembelajaran  yang di lakukan guru harus berbeda, karena kemampuan berfikir serta menerima antara anak usia rendah atau kelas rendah berbeda dengan anak usia tinggi atau kelas tinggi.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Strategi pembelajaran Aqidah Akhlak adalah suatu perencanaan yang sadar dan terencana dalam menyiapkan dan memberi pengalaman belajar peserta didik untuk mengenal, memahami, mengahayati dan mengimani Allah dan merealisasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan daripada Strategi pembelajaran Aqidah Akhlak sendiri dapat dilihat dalam QS. An-Nahl ayat 125.
Strategi Pembelajaran  yang dilakukan dalam pembelajaran Aqidah Akhlak yakni, yang pertama adalah Exposition-discovery learning (pembelajaran langsung-tidak langsung). Dengan pembelajaran langsung, guru yang langsung menyampaikan materi pada siswa, sedangkan dalam pembelajaran tidak langsung, siswalah yang menyimpulkan sendiri intisari dalam sebuah pembelajaran dengan guru hanya sebagai fasilitatornya. Dan yang kedua Group-individual learning. Pembelajaran akah dilakukan menjadi beberapa kelompok atau secara individu.
Al-Ghazali, berpendapat bahwa strategi pembelajaran agama (termasuk di dalamnya adalah Aqidah Akhlak) itu diidentikan antara guru dengan seorang dokter. Menurutnya, strategi yang dilakukan haruslah disesuaikan dengan usia anak, hal tersebut karena karena kemampuan berfikir serta menerima antara anak usia rendah atau kelas rendah berbeda dengan anak usia tinggi atau kelas tinggi.
B.     Saran
Makalah ini disusun agar kita sebagai calon guru dapat menentukan dengan tepat strategi pembelajaran Aqidah Akhlak yang seperti apa yang sesuai untuk anak MI. Penulis menyarankan untuk membaca dengan seksama agar dapat memahaminya dengan baik isi dari makalah kami. Penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehinggah saran yang membangun kami butuhkan untuk membuat karya kami menjadi lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Efendi. 2015. Konsep Pemikiran Edward L. Thorndike Behavioristik dan Imam Al-Ghazali Akhlak. Jakarta: Guepedia.
Fadli, Adi. 2017. Konsep Pendidikan Imam Al-Ghazali dan Relevansinya dalam Sistem Pendidikan di Indonesia, Vol. X, No. 2.
Kurniawati, Fitri Erning. 2015. Pengembangan Bahan Ajar Aqidah Ahklak di Madrasah Ibtidaiyah, Jurnal Penelitian, Vol. 9, No. 2.
Lampiran Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Standar Kompetensi Lulusan Dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam Dan Bahasa Arab Di Madrasah.
Majid, Abdul. 2014. Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Saifuddin. 2018. Pengelolaan Pembelajaran Teoritis dan Prakti. Yogyakarta: Deepublish.
Yamin, Martinis. 2013. Strategi dan Metode dalam Model Pembelajaran. Jakarta: Referensi Gaung Persada Group.
Zaini, Hisyam. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta : CTSD.





[1]Martinis Yamin, Strategi dan Metode dalam Model Pembelajaran, (Jakarta: Referensi Gaung Persada Group, 2013), hlm. 1.
[2]Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), cet. 4., hlm. 129.
[3] Hisyam Zaini, Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta : CTSD, 2007), hlm 48.
[4] Rosihon Anwar, Aqidah  Akhlak, (Bandung : Pustaka Setia, 2008), hlm. 13.
[5] Ibid., hlm. 205.
[6] Fitri Erning Kurniawati, 2015, Pengembangan Bahan Ajar Aqidah Ahklak di Madrasah Ibtidaiyah, Jurnal Penelitian, Vol. 9, No. 2,hlm. 369.
[7] Lampiran Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Standar Kompetensi Lulusan Dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam Dan Bahasa Arab Di Madrasah.
[8] Saifuddin, Pengelolaan Pembelajaran Teoritis dan Praktis, (Yogyakarta: Deepublish, 2018), cet. 1., hlm. 108.
[9] Ibid.
[10] Ibid.
[11] Adi Fadli, 2017, Konsep Pendidikan Imam Al-Ghazali dan Relevansinya dalam Sistem Pendidikan di Indonesia, Vol. X, No. 2., hlm. 226-227.
[12] Ibid.
[13] Ibid., hlm. 291-292.
[14] Ibid., hlm. 293.
[15] Efendi, Konsep Pemikiran Edward L. Thorndike Behavioristik dan Imam Al-Ghazali Akhlak, (Jakarta: Guepedia, 2015), hlm. 73.
[16] Ibid.
Previous Post
Next Post

yang terbuka namun rahasia; ia hanya dapat dipahami melalui cinta; hanya dapat disentuk dengan kebaikan.

0 komentar:

Berkomentar yang bijak ya..