Minggu, 25 November 2018

Makalah Qashalil Qur’an dan Aqsamil Qur’an

MAKALAH
Qashalil Qur’an dan Aqsamil Qur’an
(Pengertian, Sejarah, Macam-macam, Fungsi, Pandangan Ulama)
Disusun guna Memenuhi Tugas Ulumul Qur’an Semester Gasal
Dosen Pengampu : Muhammad Miftah, M.Pd. I

 

Disusun oleh Kelompok 11:
1.      Nila Sandra Dewi             ( 1610310xxx )
2.      Diana Nurul Amaliana      ( 1610310xxx )
3.      Halimatussa’diah              ( 1610310xxx )


 


PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH - A
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
2017
PETA KONSEP QASHALIL QUR’AN


PETA KONSEP AQSAMIL QUR’AN

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Al-Qur’an merupakan mukjizat abadi yang diturunkan Allah swt. melalui Rasulnya, Nabi Muhammad SAW., dalam bahasa Arab, dan diperuntukkan bagi seluruh umat manusia. Al-Qur’an mengandung bermacam-macam uslub. Diantara uslub yang dipergunakannya ialah dengan menggunakan qasam, yakni untuk memperkuat kebenaran berita yang disampaikan Allah swt. kepada manusia. Al-Qur’an juga memuat banyak kisah-kisah didalamnya, supaya manusia dapat mengambil hikmah dan dapat belajar dari kisah-kisah hidup ummat sebelum mereka.
Makalah ini dibuat agar kita sebagai manusia mengerti tentang sumpah-sumpah (qasam) Allah swt di dalam al-Qur’an, agar dalam menerima kebenaran berita di dalam al-Qur’an kita menjadi yakin, dan percaya bahwasanya al-Qur’an itu memang benar. Begitupun dengan pembahasan mengenai qashalil Qur’an, diharapkan kita semua dapat tau apa itu qashalil Qur’an, kisah-kisah di dalamnya, sehingga kita dapat memetik hikmah dari setiap kisah yang ada di dalam al-Qur’an.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengertian qashalil qur’an dan aqsamil qur’an ?
2.      Bagaimana sejarah qashalil qur’an dan aqsamil qur’an ?
3.      Bagaimana macam-macam qashalil qur’an dan aqsamil qur’an ?
4.      Bagaimana fungsi dari qashalil qur’an dan aqsamil qur’an ?
5.      Bagaimana pandangan ulama terhadap qashalil qur’an dan aqsamil qur’an?
C.    Tujuan
1.      Mengetahui pengertian qashalil qur’an dan aqsamil qur’an.
2.      Mengetahui sejarah qashalil qur’an dan aqsamil qur’an.
3.      Mengetahui macam-macam qashalil qur’an dan aqsamil qur’an.
4.      Mengetahui fungsi dari qashalil qur’an dan aqsamil qur’an.
5.      Mengetahui pandangan ulama terhadap qashalil qur’an dan aqsamil qur’an.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Qashalil Qur’an dan Aqsamil Qur’an
Kata Qashash berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk jamak dari kata Qishshah yang berarti tatabbu’ al-atsar napak tilas/mengulang kembali masa lalu). Imam ar-Raghib al-Isfahani dalam kitab al-Mufradat fi gharib al-Qur’an juga mengartikan kata “Qashshtu atsarahu” sebagai “Saya mengikuti jejaknya”. [1]
Manna al-Khalil al- Qaththan mendefinisikan qishashul Qur’an sebagai pemberitaan al-Qur’an tentang hal ihwal umat-umat terdahulu dan para nabi, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi secara empiris. Dan sesungguhnya al-Qur’an banyak memuat peristiwa-peristiwa masa lalu, sejarah umat-umat terdahulu, negara, perkampungan dsn mengisahkan setiap kaum dengan cara shuratan nathiqah (seolah olah pembaca kisah tersebut menjadi pelaku sendiri yang menyaksikan peristiwa itu). Dapat diambil pengertian bahwa Qishash sama dengan kisah yang mempunyai arti segala peristiwa, kejadian, atau berita yang telah terjadi dari suatu cerita untuk menelusuri jejaknya. Jadi, qashashul Qur’an adalah informasi dalam al-Qur’an mengenai suatu kejadian/perkara baik masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang secara berperiodik dimana satu sama lainnya saling sambung-menyambung (berangkai). [2]
Sedangkan secara bahasa, aqsam merupakan bentuk jamak dari kata qasam, yang berarti sumpah. Secara istilah, qasam (sumpah) adalah pernyataa yang diucapkan seseorang dengan disertai bersaksi pada Tuhan atau penyebutan sesuatu yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi untuk meyakinkan jiwa seseorang, atau untuk mengikatkan jiwa agar tidak melakukan sesuatu perbuatan atau untuk melakukannya.[3] Jadi, aqsamul Qur’an ialah ilmu yang membicarakan tentang sumpah-sumpah yang terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an.[4]
B.     Sejarah Qashalil Qur’an dan Aqsamil Qur’an
Kesediaan jiwa pribadi bagi setiap individu dalam menerima dan membenarkan sesuatu sangat berbeda-beda. Jiwa bersih yang fitrahnya tidak dikotori dengan najis atau tidak ternoda dengan kejahatan, maka hati orang ini akan lebih terbuka untuk menerima petunjuk, dengan kata lain jiwa yang seperti ini yang cepat menerima petunjuk Allah swt. adapun jiwa yang diselubungi oleh awan kejahilan serta ditutupi oleh kegelapan bathil, maka hati orang ini tidak akan bersedia menerima kebenaran agama atau tidak akan tergugah hatinya kecuali dipaksakan sampai timbul kegoncangan.[5]
Qasam dalam pembicaraan merupakan suatu pengukuhan kalimat yang diselingi dengan bukti konkrit dan dapat menyerat lawan untuk mengakui yang diinginkannya.[6] Sebagaimana diketahui bahwa sudah menjadi kebiasaan manusia dalam samua masa atau waktu jika dibicarakan, berjanji dan bersemboyang, maka mereka selalu ingin memperkuatnya dengan berbagai cara, diantaranya adalah dengan sumpah. Dengan sumpah, pendengar akan yakin dan mantap dalam menerima dan mempercayaai ucapan yang didengarnya. Begitupun di dalam al-Qur’an,  Allah swt. di dalam wahyu-Nya (al-Qur’an) juga memperkuat berita-berita di dalam al-Qur’an dengan sumpah. Dengan adanya sumpah, tidak akan ada seorang makhlukpun yang dapat menentangnya, serta dengan qasam, dapat diyakini bahwa al-Qur’an itu memang adalah wahyu dari Allah swt.

C.    Macam-Macam Qashalil Qur’an dan Aqsamil Qur’an
1.      Qashalil Qur’an
Kisah-kisah dalam al-Qur’an dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
a.      Dilihat dari sisi pelaku
Dilihat dari sisi pelaku, Manna al-Qathtan membagi menjadi tiga macam yaitu:
1)      Kisah para nabi. Bagian ini berisikan tentang ajakan para nabi kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat yang memperkuat dakwahnya, sikap orang0orang yang memusuhinya, tahapan-tahapan dakwah dan perkembangannya serta akibat yang menimpa orang beriman (mempercayai dan golonga yang mendustakan para nabi. Misalnya kisah nabi Nuh a.s., Ibrahim a.s., Musa a.s., Harun a.s., Isa a.s., Muhammas saw., dan nabi-nabi serta rasul lainnya.
2)      Kisah yang berhubungan dengan masa lalu dan orang-orang yang tidak disebutkan kenabiannya. Misalnya kisah orang yang keluar dari kampung halamannya, yang beribu-ribu jumlahnya karena takut mati, kisah Talut dan Jalut, dua orang putera Adam, Ashabul Kahfi, Dzul Qarnain, Qarun, Ashabus Sabti (orang-orang yang menangkap ikan pada hari sabtu), Misalnya Maryam, Ashabul uukhdud, Ashabul Fil, dan lain-lain.
3)      Kisah yang terjadi pada masa Rasulullah saw. Seperti perang Badar dan Uhud dalam surah Ali Imran, perang Hunain dan Tabuk dalam surah at-Taubah, perang al-Akhzab, Hijrah, Isra’, dan lain-lain.
b.      Dilihat dari panjang pendeknya
Dilihat dari panjang pendeknya, kisah-kisah al-Qur’an dibagi menjadi tiga, yaitu:
1)      Kisah panjang, contohnya kisah nabi Yusuf a.s. Dalam QS. Yusuf (12) yang hampir seluruh ayatnya mengungkapkan kehidupan nabi Yusuf, sejak masa kanak-kanak sampai dewasa dan memiliki kekuasaan. Contoh lain adalah kisah nabi Musa a.s. dalam surah al-Qashash (28), kisah nabi Nuh a.s. dan kaumnya dalam QS. Nuh (71), dan lain-lain.
2)      Kisah yang lebih pendek dari bagian pertama (sedang), seperti kisah Maryam dalam QS. Maryam (19), kisah Ahzab al-Kahfi.
3)      Kisah pendek, yaitu kisah yang jumlahnya kurang dari sepuluh ayat, misalnya kisah Nabi Hud as. dalam QS. Hud ayat 110.
c.       Dilihat dari jenisnya
Dilihat dari jenisnya kisah-kisah dalam al-Qur'an dibagi menjadi tiga macam, yaitu.
1)      Kisah sejarah (al-Qishash al-Tarikhiyyah), berkisah tentang kisah-kisah sejarah seperti para Nabi dan Rasul.
2)      Kisah alegoris atau perumpamaan (al-Qishash al-Tamtlisiyah), untuk menerangkan atau memperjelas suatu pengertian atau keadaan, bahwa peristiwa itu tidak benar terjadi tetapi hanya sebagai perumpamaan.
3)      Kisah futurolog, kisah ini untuk mewujudkan tujuan-tujuan ilmiah atau menafsirkan, fenomena yang ada atau menguraikan masalah yang sulit diterima akal. Misalnya seperti fenomena hujan, dalam QS. An-Naba’: 14.
d.      Dilihat dari segi waktu
Ditinjau dari segi waktu kisah-kisah dalam al-Qur'an ada tiga macam, yaitu.
1)      Kisah hal ghaib yang terjadi pada masa lalu, contoh dalam QS. Al-Baqarah: 30-34, QS. Furqan: 59, QS. A'raf: 11-25.
2)      Kisah hal ghaib yang terjadi pada masa kini, contoh dalam QS. Al-Qadar: 13-14, QS. Al-A'raf: 13-14.
3)      Kisah hal ghaib yang akan terjadi pada masa yang akan datang, contoh dalam QS. Al-Qari'ah, QS. Al-Zalzalah, tentang hari kiamat.
e.       Dilihat dari segi materi
Ditinjau dari segi materi, kisah-kisah dalam al-Qur'an dibagi menjadi tiga, yaitu.
1)      Kisah-kisah para Nabi, contohnya: kisah Nabi Adam as. dalam QS. Al-Baqarah: 30-39.
2)      Kisah tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi masa lampau yang tidak dapat dipastikan kenabiannya, contohnya: kisah tentang Zulkarnain dalam QS. Al-Kahfi: 83-98.
3)      Kisah yang berpaut dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dimasa Rasulullah saw., contohnya: kisah tetang hijrahnya Nabi saw. dalm QS. Muhammad: 13.[7]
2.      Aqsamil Qur’an
Aqsamil Qur’an dalam al-Qur’an  terdapat dibagi menjadi dua macam, yaitu qasam dhahir dan  qasam mudhmar.[8]
a.      Qasam  dhahir (jelas)
Qasam dhahir, yaitu sumpah yang adat qasamnya disebutkan bersama dengan muqsam bihnya. Contoh :
وَ أَقسَمُوا بِالله جَهدَ أَيمَانِهِم لَا يَبعَثُ الله مَن يَمُوتُ
Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati.” (QS. An-Nahl: 38)
b.      Qasam mudhmar (tersimpan atau samar)
Qasam mudhmar, yaitu sumpah yang adat qasamnya dan muqsam bihnya tidak disebutkan. Tetapi adanya qasam ditunjukkan oleh lam taukid (lam yang berfungsi untuk menguatkan pembicaraan) yang terletak pada muqsam alaih (jawab qasam).[9] Contoh:
لَتُبلَوُنَّ فِي أَموَالِكُم وأَنفُسِكُم ....
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu.” (QS. Ali-Imran: 186)
Jika diperhatikan ayat diatas terdapat qasam yang tidak disebutkan, yaitu:                                                           وَالله لَتُبلَوُنَّ ....
D.    Fungsi Dari Qashalil Qur’an dan Aqsamil Qur’an
1.      Fungsi penggunaan aqsam didalam al-Qur’an:
Faedah qasam dalam al-Qur’an diantaranya guna menghilangkan keraguan, melenyapkan kesalahpahaman, menegakkan hujjah, menguatkan khabar, dan menetapkan hukum dengan cara paling sempurna.[10]
Imam Asy-Suyuti menjelaskan bahwa Allah swt. bersumpah dalam al-Qur’an terkadang untuk menguatkan terhadap pokok-pokok keimanan, untuk menguatkkan kebenaran al-Qur’an, untuk menguatkan kebenaran Rasulullah, untuk menguatkan pembalasan, janji, dan ancaman, dan untuk menguatkan keadaan manusia.[11]
Menurut al-Qursyairi, qasam digunakan dalam al-Qur’an guna menyempurnakan dan memperkuat hujjah yang disampaikan. Sumpah dalam al-Qur’an juga untuk memperkuat pemberitaan yang disampaikan Allah kepada manusia, baik mengenai hal-hal yang gaib maupun mengenai kejadian-kejadian yang akan datang, sehingga mereka itu mau menerima dan meyakini kebenarannya.[12]
2.      Fungsi penggunaan qishash didalam al-Qur’an:
a.      Faedah qashalil Qur’an
1)      Menjelaskan dasar-dasar dakwah dan pokok-pokok syari’at yang disampaikan oleh para Nabi, dan menjelaskan bahwa para Nabi terdahulu berada pada jalan yang benar.
2)      Menguatkan hati Nabi Muhammad saw. dan umatnya dalam menegakkan agama Allah swt. serta meyakinkan akan jayanya kebenaran dan hancurnya kebatilan.
3)      Menarik perhatian para pendengan yang diberikan dakwah kepada mereka.
b.      Hikmah berulang-ulang qashash dalam al-Qur’an:
1)      Menunjukkan kebalaghahan al-Qur’an. Setiap mengangkat satu peristiwa dan figur, selalu diungkap kedalam gaya dan bentuk yang berbeda sehingga selalu sedap dibaca dan didengar.
2)      Menunjukkan i’jaznya, sebagai bukti bahwa al-Qur’an itu benar-benar dari Allah swt. setiap ungkapan dari satu kasus tidak ada yang dapat ditantang oleh para penenang baik sastra maupun isinya.
3)      Menunjukkan besarnya perhatian al-Qur’an terhadap kasus yang diulang-ulang penyebutannya.
4)      Menunjukkan perbedaan stressing dari setiap ungkapan yang diulang-ulang dari qashash tersebut.[13]
E.     Hikmah Qashalil Qur’an dan Aqsamil Qur’an
1)      Dengan adanya sumpah di dalam al-Qur’an (aqsamil Qur’an), membuktikan bahwa al-Qur’an memang benar-benar wahyu dari Allah swt. bukan karangan makhluk.
2)      Dengan adanya pemahaman mengenai sumpah di dalam al-Qur’an (aqsamil Qur’an) dapat menghilangkan keraguan di hati manusia mengenai kebenaran berita di dalam al-Qur’an.
3)      Dengan qashalil Qur’an, akan menarik perhatian pendengar, ketika mendengar dakwah al-Qur’an melalui kisah.
4)      Dengan adanya pemahaman mengenai kisah-kisah di dalam al-Qur’an (qashalil Qur’an), menjadikan manusia dapat mengambil pelajaran dari ummat-ummat terdahulu.

F.     Pandangan Ulama Terhadap Qashalil Qur’an dan Aqsamil Qur’an
a.      Pandangan ulama terhadap qashalil Qur’an
Berkaitan dengan penuturan nama dan gelar dalam kisah-kisah dalam al-Qur’an, ada sebuah persoalan penting, yaitu suatu kisah didalam al-qur’an itu menyebutkan nama-nama pelaku khusus atau berlaku secara umum bagi siapa saja?
Mayoritas ulama berpendapat bahwa hal yang harus dijadikan pertimbangan adalah keumuman redaksi bukan kekhususan sebab. Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa banyak ayat yang diturunkan berkenaan dengan kisah tertentu, bahkan menunjuk pribadi seseorang namun, berlaku umum. Misalnya, surat al-Maidah ayat 49 tentang perinyah Nabi untuk mengadili secara adil. Ayat ini sebenarnya diturunkan berkenaan dengan kasus Bani Quraidzah dan Bani Nadhir. Namun menurut Ibnu Taimiyah, tidak benar jika dikatakan bahwa perintah berlaku adil bagi Nabi itu hanya ditujukan terhadap dua kabilah itu.[14]
b.      Pandangan ulama terhadap aqsamil Qur’an
Ulama berbeda pendapat tentang maksud qasam:
1)      Menurut Abu al-qosim al-Qusyairiy menerangkan bahwa rahasia Allah swt. menyebut kalimat “qasam” atau sumpah dalam KitabNya adalah untuk menyempurnakan serta menguatkan hujjah-Nya dan dalam hal ini, kalimat “qasam” memiliki dua keistimewaan, pertama sebagai “syahdah” atau persaksian serta penjelasan dan kedua sebagai “qasam” atau sumpah itu sendiri.
2)      Menurut al-Jurnani seperti yang dikutip oleh Mansur Nasution, sumpah adalah sesuatu yang dikemukakan untuk menguatkan salah satu dari dua berita dengan menyebut nama Allah atau sifatNya.
3)      Menurut Miftah Faridl dan Agus Syihabudin, sumpah adalah salah satu alat taukid yang cukup efektif di dalam kelaziman perhubungan atau komunikasi.[15]
BAB III
KESIMPULAN
Qashashul Qur’an adalah informasi dalam al-Qur’an mengenai suatu kejadian/perkara baik masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang secara berperiodik dimana satu sama lainnya saling sambung-menyambung (berangkai). Sedangkan aqsamul Qur’an ialah ilmu yang membicarakan tentang sumpah-sumpah yang terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an.
Kisah-kisah dalam al-Qur’an dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
Dilihat dari sisi pelaku, yaitu: Kisah para nabi, kisah yang berhubungan dengan masa lalu dan orang-orang yang tidak disebutkan kenabiannya, kisah yang terjadi pada masa Rasulullah saw.
Dilihat dari panjang pendeknya, yaitu: Kisah panjang, contohnya kisah nabi Yusuf a.s., kisah yang lebih pendek dari bagian pertama (sedang), seperti kisah Maryam, kisah pendek, yaitu kisah yang jumlahnya kurang dari sepuluh ayat, misalnya kisah Nabi Hud as.
Dilihat dari jenisnya, yaitu: Kisah sejarah (al-Qishash al-Tarikhiyyah), kisah alegoris atau perumpamaan (al-Qishash al-Tamtlisiyah), dan kisah futurolog
Ditinjau dari segi waktu, yaitu kisah hal ghaib yang terjadi pada masa lalu, kisah hal ghaib yang terjadi pada masa kini dan kisah hal ghaib yang akan terjadi pada masa yang akan datang.
Ditinjau dari segi materi, yaitu: Kisah-kisah para Nabi, , kisah tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi masa lampau yang tidak dapat dipastikan kenabiannya, dan kisah yang berpaut dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dimasa Rasulullah saw.
Sedangkan aqsamil Qur’an dalam al-Qur’an  terdapat dibagi menjadi dua macam: Qasam dhahir, yaitu sumpah yang adat qasamnya disebutkan bersama dengan muqsam bihnya, dan Qasam mudhmar, yaitu sumpah yang adat qasamnya dan muqsam bihnya tidak disebutkan. Tetapi adanya qasam ditunjukkan oleh lam taukid (lam yang berfungsi untuk menguatkan pembicaraan) yang terletak pada muqsam alaih (jawab qasam).
Faedah qasam dalam al-Qur’an diantaranya guna menghilangkan keraguan, melenyapkan kesalahpahaman, menegakkan hujjah, menguatkan khabar, dan menetapkan hukum dengan cara paling sempurna
Sedangkan Faedah qashalil Qur’an:
1)      Menjelaskan dasar-dasar dakwah dan pokok-pokok syari’at yang disampaikan oleh para Nabi, dan menjelaskan bahwa para Nabi terdahulu berada pada jalan yang benar.
2)      Menguatkan hati Nabi Muhammad saw. dan umatnya dalam menegakkan agama Allah swt. serta meyakinkan akan jayanya kebenaran dan hancurnya kebatilan.
3)      Menarik perhatian para pendengan yang diberikan dakwah kepada mereka.
Pandangan ulama terhadap qashalil Qur’an: Mayoritas ulama berpendapat bahwa hal yang harus dijadikan pertimbangan adalah keumuman redaksi bukan kekhususan sebab. Sedangkan untuk aqsamil Qur’an, ulama berbeda pendapat tentang maksud qasam: Menurut Abu al-qosim al-Qusyairiy menerangkan bahwa rahasia Allah swt. menyebut kalimat “qasam” atau sumpah dalam KitabNya adalah untuk menyempurnakan serta menguatkan hujjah-Nya , sedangkan menurut Miftah Faridl dan Agus Syihabudin, sumpah adalah salah satu alat taukid yang cukup efektif di dalam kelaziman perhubungan atau komunikasi.




4)       
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qaththan, Manna’. 1997. Mahabis Fi Ulum Alquran. Kairo: Matabah Wahbah.
Al-Qattan, Manna’ Khalil diterjemahkan dari bahas Arab oleh Mudzkir AS. 2001. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Bogor: Pustaka Litera AntarNusa.
Gufron, Mohammad dan Rahmawati. 2007. ULUMUL QUR’AN: Praktis dan Mudah. Yogyakarta: KALIMEDIA.
Hamzah, Muchotob. 2003. Studi al-Qur’an Komprehensif. Yogyakarta: Gama Media.
Quthan, Mana’ul. 1995. Pembahasan Ilmu Alqur’an II. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Suhadi. 2011. ULUMUL QUR’AN. Kudus: Nora Media Enterprise.
Syadali, Ahmad, dkk. 1997. Ulumul Qur’an II. Bandung: Pustaka Setia.
Zulihafnani. 2011. Rahasia Sumpah Allah dalam al-Qur’an. Jurnal Substantia  Vol. 12 No. 1.
Jack frost, “ULUMUL QUR’AN: ILMU AQSAMUL QUR’AN”, diakses dari http://myrealblo.blogspot.co.id/2015/11/ulumul-quran-ilmu-aqsamil-quran.html., Pada Tanggal1 14 November 2017 Pukul 14.44 WIB.
Jack frost, “ULUMUL QUR’AN: ILMU QASHASHIL QUR’AN”, diakses dari http://myrealblo.blogspot.co.id/2015/11/ulumul-quran-qashasil-al-quran.html., Pada Tanggal1 14 November 2017 Pukul 14.44 WIB.





[1] Suhadi, ULUMUL QUR’AN, (Kudus: Nora Media Enterprise, 2011), cetakan I, hlm. 201.
[2] Ibid., hlm. 201-202.
[3] Mohammad Gufron dan Rahmawati, ULUMUL QUR’AN: Praktis dan Mudah,(Yogyakarta: KALIMEDIA, 2007), cetakan I, hlm. 102.
[4] Ahmad Syadali, dkk.  Ulumul Qur’an II, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), cetakan I, hlm. 45.
[5] Mana’ul Quthan, Pembahasan Ilmu Alqur’an II, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1995), cetakan I, hlm. 118.
[6] Manna’ Al-Qaththan, Mahabis Fi Ulum Alquran, (Kairo: Matabah Wahbah, 1997), cetakan x, hlm. 284.
[7] Suhadi, ULUMUL QUR’AN,… hlm., 208-2011
[8] Mohammad Gufron dan Rahmawati,... hlm.107.
[9] Ibid.
[10] Manna’ Khalil al-Qattan diterjemahkan dari bahas Arab oleh Mudzkir AS., Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, (Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 2001), hlm. 415.
[11] Muchotob Hamzah, Studi al-Qur’an Komprehensif, (Yogyakarta: Gama Media, 2003), hlm. 211-212.
[12] Zulihafnani, 2011, Rahasia Sumpah Allah dalam al-Qur’an, Jurnal Substantia  Vol. 12 No. 1.
[13] Muchotob Hamzah, Studi al-Qur’an Komprehensif ... , hlm. 205-206.
[14] Jack frost, “ULUMUL QUR’AN: ILMU QASHASHIL QUR’AN”, diakses dari http://myrealblo.blogspot.co.id/2015/11/ulumul-quran-qashasil-al-quran.html., Pada Tanggal1 14 November 2017 Pukul 14.44 WIB.
[15] Jack frost, “ULUMUL QUR’AN: ILMU AQSAMUL QUR’AN”, diakses dari http://myrealblo.blogspot.co.id/2015/11/ulumul-quran-ilmu-aqsamil-quran.html., Pada Tanggal1 14 November 2017 Pukul 14.44 WIB.