MAKALAH
Qashalil Qur’an dan Aqsamil Qur’an
(Pengertian, Sejarah, Macam-macam,
Fungsi, Pandangan Ulama)
Disusun
guna Memenuhi Tugas Ulumul Qur’an Semester Gasal
Dosen
Pengampu : Muhammad Miftah, M.Pd. I
Disusun oleh Kelompok 11:
1.
Nila Sandra Dewi ( 1610310xxx )
2.
Diana Nurul
Amaliana ( 1610310xxx )
3.
Halimatussa’diah (
1610310xxx )
PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
- A
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
KUDUS
2017
PETA
KONSEP QASHALIL QUR’AN
PETA
KONSEP AQSAMIL QUR’AN
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Al-Qur’an merupakan mukjizat abadi yang diturunkan Allah swt. melalui
Rasulnya, Nabi Muhammad SAW., dalam bahasa Arab, dan diperuntukkan bagi seluruh
umat manusia. Al-Qur’an mengandung bermacam-macam uslub. Diantara uslub yang dipergunakannya
ialah dengan menggunakan qasam, yakni untuk memperkuat kebenaran berita yang
disampaikan
Allah swt. kepada manusia. Al-Qur’an juga memuat banyak kisah-kisah
didalamnya, supaya manusia dapat mengambil hikmah dan dapat belajar dari
kisah-kisah hidup ummat sebelum mereka.
Makalah
ini dibuat agar kita sebagai manusia mengerti tentang
sumpah-sumpah (qasam) Allah swt di dalam al-Qur’an, agar dalam menerima
kebenaran berita di dalam al-Qur’an kita menjadi yakin, dan percaya bahwasanya
al-Qur’an itu memang benar. Begitupun dengan pembahasan mengenai qashalil Qur’an, diharapkan
kita semua dapat tau apa itu qashalil Qur’an, kisah-kisah di dalamnya, sehingga kita dapat memetik hikmah dari setiap
kisah yang ada di dalam al-Qur’an.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana pengertian qashalil qur’an dan aqsamil qur’an ?
2. Bagaimana sejarah qashalil qur’an dan aqsamil qur’an ?
3. Bagaimana macam-macam qashalil qur’an dan aqsamil qur’an ?
4. Bagaimana fungsi dari qashalil qur’an dan aqsamil qur’an ?
5. Bagaimana pandangan ulama terhadap qashalil qur’an dan aqsamil qur’an?
C.
Tujuan
1. Mengetahui pengertian qashalil qur’an dan aqsamil qur’an.
2. Mengetahui sejarah qashalil qur’an dan aqsamil qur’an.
3. Mengetahui macam-macam qashalil qur’an dan aqsamil qur’an.
4. Mengetahui fungsi dari qashalil qur’an dan aqsamil qur’an.
5. Mengetahui pandangan ulama terhadap qashalil qur’an dan aqsamil qur’an.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Qashalil Qur’an
dan Aqsamil Qur’an
Kata
Qashash berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk jamak dari kata Qishshah
yang berarti tatabbu’ al-atsar napak tilas/mengulang kembali masa lalu).
Imam ar-Raghib al-Isfahani dalam kitab al-Mufradat fi gharib al-Qur’an juga
mengartikan kata “Qashshtu atsarahu” sebagai “Saya mengikuti jejaknya”. [1]
Manna
al-Khalil al- Qaththan mendefinisikan qishashul Qur’an sebagai
pemberitaan al-Qur’an tentang hal ihwal umat-umat terdahulu dan para nabi,
serta peristiwa-peristiwa yang terjadi secara empiris. Dan sesungguhnya
al-Qur’an banyak memuat peristiwa-peristiwa masa lalu, sejarah umat-umat
terdahulu, negara, perkampungan dsn mengisahkan setiap kaum dengan cara shuratan
nathiqah (seolah olah pembaca kisah tersebut menjadi pelaku sendiri yang
menyaksikan peristiwa itu). Dapat diambil pengertian bahwa Qishash sama
dengan kisah yang mempunyai arti segala peristiwa, kejadian, atau berita yang
telah terjadi dari suatu cerita untuk menelusuri jejaknya. Jadi, qashashul
Qur’an adalah informasi dalam al-Qur’an mengenai suatu kejadian/perkara
baik masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang secara berperiodik dimana
satu sama lainnya saling sambung-menyambung (berangkai). [2]
Sedangkan
secara bahasa, aqsam merupakan bentuk jamak dari kata qasam,
yang berarti sumpah. Secara istilah, qasam (sumpah) adalah pernyataa
yang diucapkan seseorang dengan disertai bersaksi pada Tuhan atau penyebutan
sesuatu yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi untuk meyakinkan jiwa
seseorang, atau untuk mengikatkan jiwa agar tidak melakukan sesuatu perbuatan
atau untuk melakukannya.[3] Jadi, aqsamul Qur’an ialah ilmu yang
membicarakan tentang sumpah-sumpah yang terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an.[4]
B. Sejarah Qashalil Qur’an dan Aqsamil Qur’an
Kesediaan jiwa pribadi bagi setiap
individu dalam menerima dan membenarkan sesuatu sangat berbeda-beda. Jiwa
bersih yang fitrahnya tidak dikotori dengan najis atau tidak ternoda dengan kejahatan, maka hati
orang ini akan lebih terbuka untuk menerima petunjuk, dengan kata lain jiwa
yang seperti ini yang cepat menerima petunjuk Allah swt. adapun jiwa yang
diselubungi oleh awan kejahilan serta ditutupi oleh kegelapan bathil, maka hati
orang ini tidak akan bersedia menerima kebenaran agama atau tidak akan tergugah
hatinya kecuali dipaksakan sampai timbul kegoncangan.[5]
Qasam
dalam pembicaraan merupakan suatu pengukuhan kalimat yang diselingi dengan
bukti konkrit dan dapat menyerat lawan untuk mengakui yang diinginkannya.[6]
Sebagaimana diketahui bahwa sudah menjadi kebiasaan manusia dalam samua masa
atau waktu jika dibicarakan, berjanji dan bersemboyang, maka mereka selalu ingin
memperkuatnya dengan berbagai cara, diantaranya adalah dengan sumpah. Dengan
sumpah, pendengar akan yakin dan mantap dalam menerima dan mempercayaai ucapan
yang didengarnya. Begitupun di dalam al-Qur’an,
Allah swt. di dalam wahyu-Nya (al-Qur’an) juga memperkuat berita-berita
di dalam al-Qur’an dengan sumpah. Dengan adanya sumpah, tidak akan ada seorang
makhlukpun yang dapat menentangnya, serta dengan qasam, dapat diyakini bahwa
al-Qur’an itu memang adalah wahyu dari Allah swt.
C.
Macam-Macam
Qashalil Qur’an dan Aqsamil Qur’an
1.
Qashalil Qur’an
Kisah-kisah dalam al-Qur’an dibagi menjadi tiga
macam, yaitu:
a.
Dilihat dari sisi pelaku
Dilihat dari sisi pelaku, Manna al-Qathtan
membagi menjadi tiga macam yaitu:
1) Kisah
para nabi. Bagian ini berisikan tentang ajakan para nabi kepada kaumnya,
mukjizat-mukjizat yang memperkuat dakwahnya, sikap orang0orang yang
memusuhinya, tahapan-tahapan dakwah dan perkembangannya serta akibat yang
menimpa orang beriman (mempercayai dan golonga yang mendustakan para nabi.
Misalnya kisah nabi Nuh a.s., Ibrahim a.s., Musa a.s., Harun a.s., Isa a.s.,
Muhammas saw., dan nabi-nabi serta rasul lainnya.
2) Kisah
yang berhubungan dengan masa lalu dan orang-orang yang tidak disebutkan
kenabiannya. Misalnya kisah orang yang keluar dari kampung halamannya, yang
beribu-ribu jumlahnya karena takut mati, kisah Talut dan Jalut, dua orang
putera Adam, Ashabul Kahfi, Dzul Qarnain, Qarun, Ashabus Sabti (orang-orang
yang menangkap ikan pada hari sabtu), Misalnya Maryam, Ashabul uukhdud, Ashabul
Fil, dan lain-lain.
3) Kisah
yang terjadi pada masa Rasulullah saw. Seperti perang Badar dan Uhud dalam surah Ali Imran,
perang Hunain dan Tabuk dalam surah at-Taubah, perang al-Akhzab, Hijrah, Isra’,
dan lain-lain.
b. Dilihat dari panjang pendeknya
Dilihat dari panjang pendeknya, kisah-kisah
al-Qur’an dibagi menjadi tiga, yaitu:
1)
Kisah panjang, contohnya kisah nabi Yusuf a.s.
Dalam QS. Yusuf (12) yang hampir seluruh ayatnya mengungkapkan kehidupan nabi
Yusuf, sejak masa kanak-kanak sampai dewasa dan memiliki kekuasaan. Contoh lain
adalah kisah nabi Musa a.s. dalam surah al-Qashash (28), kisah nabi Nuh a.s.
dan kaumnya dalam QS. Nuh (71), dan lain-lain.
2)
Kisah yang lebih pendek dari bagian pertama
(sedang), seperti kisah Maryam dalam QS. Maryam (19), kisah Ahzab al-Kahfi.
3)
Kisah pendek, yaitu kisah yang jumlahnya kurang
dari sepuluh ayat, misalnya kisah Nabi Hud as. dalam QS. Hud ayat 110.
c. Dilihat dari jenisnya
Dilihat dari jenisnya kisah-kisah dalam al-Qur'an dibagi menjadi tiga
macam, yaitu.
1)
Kisah
sejarah (al-Qishash al-Tarikhiyyah), berkisah tentang kisah-kisah
sejarah seperti para Nabi dan Rasul.
2)
Kisah alegoris atau perumpamaan (al-Qishash
al-Tamtlisiyah), untuk menerangkan atau memperjelas suatu pengertian atau
keadaan, bahwa peristiwa itu tidak benar terjadi tetapi hanya sebagai
perumpamaan.
3)
Kisah futurolog, kisah ini untuk mewujudkan
tujuan-tujuan ilmiah atau menafsirkan, fenomena yang ada atau menguraikan
masalah yang sulit diterima akal. Misalnya
seperti fenomena hujan, dalam QS. An-Naba’: 14.
d. Dilihat dari segi waktu
Ditinjau dari segi waktu kisah-kisah dalam al-Qur'an ada tiga macam, yaitu.
1) Kisah hal ghaib yang terjadi pada masa lalu, contoh dalam QS. Al-Baqarah:
30-34, QS. Furqan: 59, QS. A'raf: 11-25.
2) Kisah hal ghaib yang terjadi pada masa kini, contoh dalam QS. Al-Qadar:
13-14, QS. Al-A'raf: 13-14.
3) Kisah hal ghaib yang akan terjadi pada masa yang akan datang, contoh
dalam QS. Al-Qari'ah, QS. Al-Zalzalah, tentang hari kiamat.
e.
Dilihat dari
segi materi
Ditinjau dari segi materi, kisah-kisah dalam al-Qur'an dibagi menjadi
tiga, yaitu.
1) Kisah-kisah para Nabi, contohnya: kisah Nabi Adam as. dalam QS.
Al-Baqarah: 30-39.
2) Kisah tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi masa lampau yang tidak
dapat dipastikan kenabiannya, contohnya: kisah tentang Zulkarnain dalam QS.
Al-Kahfi: 83-98.
3) Kisah yang berpaut dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dimasa Rasulullah saw.,
contohnya: kisah tetang hijrahnya Nabi saw. dalm QS. Muhammad: 13.[7]
2. Aqsamil Qur’an
Aqsamil Qur’an dalam al-Qur’an terdapat dibagi menjadi dua macam, yaitu
qasam dhahir dan qasam mudhmar.[8]
a.
Qasam
dhahir (jelas)
Qasam dhahir, yaitu sumpah yang adat qasamnya
disebutkan bersama dengan muqsam bihnya. Contoh :
وَ أَقسَمُوا بِالله جَهدَ أَيمَانِهِم لَا يَبعَثُ الله مَن
يَمُوتُ
“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya
yang sungguh-sungguh: Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati.” (QS. An-Nahl: 38)
b.
Qasam mudhmar (tersimpan
atau samar)
Qasam mudhmar, yaitu sumpah yang adat qasamnya dan muqsam
bihnya tidak disebutkan. Tetapi adanya qasam ditunjukkan oleh lam
taukid (lam yang berfungsi untuk menguatkan pembicaraan) yang terletak pada
muqsam alaih (jawab qasam).[9]
Contoh:
لَتُبلَوُنَّ فِي
أَموَالِكُم وأَنفُسِكُم ....
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap
hartamu dan dirimu.” (QS. Ali-Imran: 186)
Jika diperhatikan ayat diatas terdapat qasam yang
tidak disebutkan, yaitu: وَالله لَتُبلَوُنَّ ....
D. Fungsi Dari Qashalil Qur’an dan Aqsamil Qur’an
1.
Fungsi penggunaan aqsam didalam
al-Qur’an:
Faedah qasam dalam al-Qur’an diantaranya guna menghilangkan keraguan,
melenyapkan kesalahpahaman, menegakkan hujjah, menguatkan khabar, dan
menetapkan hukum dengan
cara paling sempurna.[10]
Imam Asy-Suyuti menjelaskan bahwa Allah swt.
bersumpah dalam al-Qur’an terkadang untuk menguatkan terhadap pokok-pokok
keimanan, untuk menguatkkan kebenaran al-Qur’an, untuk menguatkan kebenaran
Rasulullah, untuk menguatkan pembalasan, janji, dan ancaman, dan untuk
menguatkan keadaan manusia.[11]
Menurut al-Qursyairi, qasam digunakan dalam
al-Qur’an guna menyempurnakan dan memperkuat hujjah yang disampaikan. Sumpah
dalam al-Qur’an juga untuk memperkuat pemberitaan yang disampaikan Allah kepada
manusia, baik mengenai hal-hal yang gaib maupun mengenai kejadian-kejadian yang
akan datang, sehingga mereka itu mau menerima dan meyakini kebenarannya.[12]
2.
Fungsi penggunaan qishash didalam
al-Qur’an:
a.
Faedah qashalil
Qur’an
1) Menjelaskan dasar-dasar dakwah dan pokok-pokok syari’at yang disampaikan oleh para Nabi, dan menjelaskan
bahwa para Nabi terdahulu berada pada jalan yang benar.
2) Menguatkan
hati Nabi Muhammad saw. dan umatnya dalam menegakkan agama Allah swt. serta
meyakinkan akan jayanya kebenaran dan hancurnya kebatilan.
3) Menarik
perhatian para pendengan yang diberikan dakwah kepada mereka.
b.
Hikmah berulang-ulang qashash dalam
al-Qur’an:
1) Menunjukkan
kebalaghahan al-Qur’an. Setiap mengangkat satu peristiwa dan figur, selalu
diungkap kedalam gaya dan bentuk yang berbeda sehingga selalu sedap dibaca dan
didengar.
2) Menunjukkan
i’jaznya, sebagai bukti bahwa al-Qur’an itu benar-benar dari Allah swt. setiap
ungkapan dari satu kasus tidak ada yang dapat ditantang oleh para penenang baik
sastra maupun isinya.
3) Menunjukkan
besarnya perhatian al-Qur’an terhadap kasus yang diulang-ulang penyebutannya.
4) Menunjukkan
perbedaan stressing dari setiap ungkapan yang diulang-ulang dari qashash
tersebut.[13]
E.
Hikmah Qashalil
Qur’an dan Aqsamil Qur’an
1) Dengan
adanya sumpah di dalam al-Qur’an (aqsamil Qur’an), membuktikan bahwa al-Qur’an
memang benar-benar wahyu dari Allah swt. bukan karangan makhluk.
2)
Dengan adanya pemahaman mengenai sumpah di dalam
al-Qur’an (aqsamil Qur’an) dapat menghilangkan keraguan di hati manusia
mengenai kebenaran berita di dalam al-Qur’an.
3)
Dengan qashalil Qur’an, akan menarik perhatian
pendengar, ketika mendengar dakwah al-Qur’an melalui kisah.
4)
Dengan adanya pemahaman mengenai kisah-kisah di
dalam al-Qur’an (qashalil Qur’an), menjadikan manusia dapat mengambil pelajaran
dari ummat-ummat terdahulu.
F.
Pandangan
Ulama Terhadap Qashalil Qur’an dan Aqsamil Qur’an
a.
Pandangan
ulama terhadap qashalil Qur’an
Berkaitan dengan penuturan nama dan gelar dalam kisah-kisah dalam al-Qur’an,
ada sebuah persoalan penting, yaitu suatu kisah didalam al-qur’an itu
menyebutkan nama-nama pelaku khusus atau berlaku secara umum bagi siapa saja?
Mayoritas ulama berpendapat bahwa hal yang harus dijadikan pertimbangan adalah keumuman redaksi bukan
kekhususan sebab. Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa banyak ayat yang diturunkan
berkenaan dengan kisah tertentu, bahkan menunjuk pribadi seseorang namun,
berlaku umum. Misalnya, surat al-Maidah ayat 49 tentang perinyah Nabi untuk
mengadili secara adil. Ayat ini sebenarnya diturunkan berkenaan dengan kasus
Bani Quraidzah dan Bani Nadhir. Namun menurut Ibnu Taimiyah, tidak benar jika
dikatakan bahwa perintah berlaku adil bagi Nabi itu hanya ditujukan terhadap
dua kabilah itu.[14]
b.
Pandangan
ulama terhadap aqsamil Qur’an
Ulama berbeda pendapat tentang maksud qasam:
1) Menurut Abu al-qosim al-Qusyairiy menerangkan bahwa rahasia Allah swt.
menyebut kalimat “qasam” atau sumpah dalam KitabNya adalah untuk menyempurnakan
serta menguatkan hujjah-Nya dan dalam hal ini, kalimat “qasam” memiliki dua
keistimewaan, pertama sebagai “syahdah” atau persaksian serta penjelasan dan
kedua sebagai “qasam” atau sumpah itu sendiri.
2) Menurut al-Jurnani seperti yang dikutip oleh Mansur Nasution, sumpah
adalah sesuatu yang dikemukakan untuk menguatkan salah satu dari dua berita
dengan menyebut nama Allah atau sifatNya.
3) Menurut Miftah Faridl dan Agus Syihabudin, sumpah adalah salah satu alat
taukid yang cukup efektif di dalam kelaziman perhubungan atau komunikasi.[15]
BAB III
KESIMPULAN
Qashashul Qur’an adalah informasi dalam al-Qur’an mengenai suatu kejadian/perkara baik
masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang secara berperiodik dimana satu
sama lainnya saling sambung-menyambung (berangkai). Sedangkan aqsamul
Qur’an ialah ilmu yang membicarakan tentang sumpah-sumpah yang terdapat
dalam ayat-ayat al-Qur’an.
Kisah-kisah dalam al-Qur’an dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
Dilihat dari sisi pelaku, yaitu: Kisah para nabi, kisah yang berhubungan
dengan masa lalu dan orang-orang yang tidak disebutkan kenabiannya, kisah yang
terjadi pada masa Rasulullah saw.
Dilihat dari panjang pendeknya, yaitu: Kisah panjang, contohnya kisah
nabi Yusuf a.s., kisah yang lebih pendek dari bagian pertama (sedang), seperti
kisah Maryam, kisah pendek, yaitu kisah yang jumlahnya kurang dari sepuluh
ayat, misalnya kisah Nabi Hud as.
Dilihat dari jenisnya, yaitu: Kisah sejarah (al-Qishash al-Tarikhiyyah),
kisah alegoris atau perumpamaan (al-Qishash al-Tamtlisiyah), dan kisah
futurolog
Ditinjau dari segi waktu, yaitu kisah hal ghaib yang terjadi pada masa
lalu, kisah hal ghaib yang terjadi pada masa kini dan kisah hal ghaib yang akan
terjadi pada masa yang akan datang.
Ditinjau dari segi materi, yaitu: Kisah-kisah para Nabi, , kisah tentang
peristiwa-peristiwa yang telah terjadi masa lampau yang tidak dapat dipastikan
kenabiannya, dan kisah yang berpaut dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi
dimasa Rasulullah saw.
Sedangkan aqsamil Qur’an dalam al-Qur’an terdapat dibagi menjadi dua macam: Qasam
dhahir, yaitu sumpah yang adat qasamnya disebutkan bersama dengan muqsam
bihnya, dan Qasam mudhmar, yaitu sumpah yang adat qasamnya
dan muqsam bihnya tidak disebutkan. Tetapi adanya qasam ditunjukkan
oleh lam taukid (lam yang berfungsi untuk menguatkan pembicaraan) yang
terletak pada muqsam alaih (jawab qasam).
Faedah
qasam dalam al-Qur’an diantaranya guna menghilangkan keraguan, melenyapkan
kesalahpahaman, menegakkan hujjah, menguatkan khabar, dan menetapkan hukum dengan cara paling sempurna
Sedangkan Faedah qashalil
Qur’an:
1)
Menjelaskan dasar-dasar dakwah dan pokok-pokok
syari’at yang disampaikan oleh para Nabi, dan menjelaskan bahwa para Nabi
terdahulu berada pada jalan yang benar.
2) Menguatkan
hati Nabi Muhammad saw. dan umatnya dalam menegakkan agama Allah swt. serta
meyakinkan akan jayanya kebenaran dan hancurnya kebatilan.
3) Menarik
perhatian para pendengan yang diberikan dakwah kepada mereka.
Pandangan
ulama terhadap qashalil Qur’an: Mayoritas ulama berpendapat bahwa hal yang harus dijadikan pertimbangan adalah keumuman redaksi bukan
kekhususan sebab. Sedangkan untuk aqsamil Qur’an, ulama berbeda pendapat
tentang maksud qasam: Menurut Abu al-qosim al-Qusyairiy menerangkan bahwa rahasia
Allah swt. menyebut kalimat “qasam” atau sumpah dalam KitabNya adalah untuk
menyempurnakan serta menguatkan hujjah-Nya , sedangkan menurut Miftah Faridl dan Agus Syihabudin, sumpah
adalah salah satu alat taukid yang cukup efektif di dalam kelaziman perhubungan
atau komunikasi.
4)
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qaththan, Manna’.
1997. Mahabis Fi Ulum Alquran. Kairo: Matabah Wahbah.
Al-Qattan, Manna’ Khalil
diterjemahkan dari bahas Arab oleh Mudzkir AS. 2001. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an.
Bogor: Pustaka Litera AntarNusa.
Gufron, Mohammad dan
Rahmawati. 2007. ULUMUL QUR’AN: Praktis dan Mudah. Yogyakarta: KALIMEDIA.
Hamzah, Muchotob. 2003. Studi al-Qur’an Komprehensif. Yogyakarta: Gama Media.
Quthan, Mana’ul. 1995. Pembahasan
Ilmu Alqur’an II. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Suhadi. 2011. ULUMUL
QUR’AN. Kudus: Nora Media Enterprise.
Syadali, Ahmad, dkk. 1997.
Ulumul Qur’an II. Bandung: Pustaka Setia.
Zulihafnani. 2011. Rahasia
Sumpah Allah dalam al-Qur’an. Jurnal Substantia Vol. 12 No. 1.
Jack frost, “ULUMUL QUR’AN: ILMU AQSAMUL
QUR’AN”, diakses dari http://myrealblo.blogspot.co.id/2015/11/ulumul-quran-ilmu-aqsamil-quran.html.,
Pada Tanggal1 14 November 2017 Pukul 14.44 WIB.
Jack frost, “ULUMUL QUR’AN: ILMU QASHASHIL QUR’AN”, diakses dari http://myrealblo.blogspot.co.id/2015/11/ulumul-quran-qashasil-al-quran.html., Pada
Tanggal1 14 November 2017 Pukul 14.44 WIB.
[3] Mohammad Gufron dan Rahmawati, ULUMUL QUR’AN: Praktis dan Mudah,(Yogyakarta:
KALIMEDIA, 2007), cetakan I, hlm. 102.
[5] Mana’ul Quthan, Pembahasan Ilmu Alqur’an II, (Jakarta: PT Rineka
Cipta, 1995), cetakan I, hlm. 118.
[6] Manna’ Al-Qaththan, Mahabis Fi Ulum Alquran, (Kairo: Matabah Wahbah,
1997), cetakan x, hlm. 284.
[10] Manna’ Khalil al-Qattan diterjemahkan dari bahas Arab oleh Mudzkir AS., Studi
Ilmu-Ilmu Qur’an, (Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 2001), hlm. 415.
[14] Jack frost, “ULUMUL QUR’AN: ILMU QASHASHIL QUR’AN”, diakses dari http://myrealblo.blogspot.co.id/2015/11/ulumul-quran-qashasil-al-quran.html., Pada
Tanggal1 14 November 2017 Pukul 14.44 WIB.
[15] Jack frost, “ULUMUL QUR’AN: ILMU AQSAMUL
QUR’AN”, diakses dari http://myrealblo.blogspot.co.id/2015/11/ulumul-quran-ilmu-aqsamil-quran.html.,
Pada Tanggal1 14 November 2017 Pukul 14.44 WIB.

0 komentar:
Berkomentar yang bijak ya..