Minggu, 25 November 2018

Makalah Membaca dan Menulis Al-Qur'an di MI

Konsep Dasar Membaca dan Menulis al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah
MAKALAH
Disusun guna Memenuhi Tugas BTQ (Baca Tulis al-Qur’an) Semester Gasal
Dosen Pengampu : Abd. Kalim, M.Pd. I

Disusun Oleh Kelompok 4 :
1.      Indun Latifah                    ( 1610310xxx )
2.      Siti Kholifah                     ( 1610310xxx )
3.      Saily Rohmah                    ( 1610310xxx )
4.      Veni Susilowati                 ( 1610310xxx )
5.      Zulie Khoirun Nisa           ( 1610310xxx )
6.      Halimatussa’diah              ( 1610310xxx )

 

PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH BTIDAIYAH - A
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Allah menurunkan kitab –Nya yang kekal, al-Qur’an, agar dibaca oleh lidah-lidah manusia, didengarkan oleh telinga mereka, ditadaburi oleh akal mereka, dan menjadi ketenangan bagi hati mereka. Ulama menyebut definisi al-Qur’an sebagai kitab yang menjadi ibadah dengan membacanya. Untuk itu dapat membaca al-Qur’an merupakan salah satu kewajiban bagi setiap muslim, baik laki-laki ataupun perempuan, muda ataupun tua. Belajar membaca al-Qur’an yang tepat adalah sewaktu dini atau sewaktu anak-anak, layaknya “mengukir diatas batu”, bukanlah belajar saat tua, karena itu sama saja seperti “mengukir diatas air”. 
Mengajari al-Qur’an yang paling efisien adalah ketika dini, yaitu ketika anak menginjak jenjang MI ataupun SD. Pembelajaran Al-Qur’an pada Madrasah Ibtidaiyah, menekankan proses kegiatan belajar yang berorientasi pada kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang peserta didik terhadap al-Qur’an. Di antaranya adalah kemampuan dalam membaca dan menulis. Pembelajaran Al-Qur’an pada hakekatnya adalah mengajarkan Al-Qur’an pada anak yang merupakan suatu proses pengenalan Al-Qur’an tahap pertama dengan tujuan agar siswa mengenal huruf sebagai tanda suara atau tanda bunyi. Yang paling penting dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an adalah keterampilan membaca Al-Qur’an dengan baik sesuai dengan kaidah yang disususun dalam ilmu Tajwid.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaiman anjuran dan  pentingnya membaca dan menulis al-Qur’an ?
2.      Bagaimana cara mengajar peserta didik MI membaca dan menulis al-Qur’an ?
 
C.    Tujuan
1.      Mengetahui anjuran dan  pentingnya membaca dan menulis al-Qur’an ?
2.      Mengetahui cara mengajar peserta didik MI membaca dan menulis al-Qur’an ?

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Anjuran dan Pentingnya Membaca dan Menulis al-Qur’an
Kata al-Qur’an secara harfiah berarti ‘bacaan yang sempurna’ nama pilihan Allah bagi Kitab suci-Nya ini sungguh tepat karena tiada satu bacaanpun sejak manusia mengenal baca-tulis lima ribu tahun yang lalu yang dapat menandingi al-Qur’anul Karim, bacaan yang sempurna lagi mulia itu.[1]
“Membaca” dalam aneka maknanya adalah syarat pertama dan utama pengembangan ilmu dan teknologi serata syarat utama membagun peradaban.[2] Ilmu baik yang kasbi (acquired knowledge) maupun yang ladunni (abadi, perennial) tidak dapat dicapai tanpa terlebih dahulu melakukan qiraat ‘bacaan’ dalam arti yang luas.[3] Ayat-ayat yang awal mula diturunkan, yaitu perintah membaca dan menulis,
اِقرَأ بِاسمِ رَبِّك ِالَّذِي خَلَقَ ، خَلَقَ الاِنسَانَ مِن عَلَقٍ ، اِقرَأوَرَبُّكَ الاَكرَمُ ، الَّذِي عَلَّمَ بِالقَلَمِ ، عَلَّمَ الاِنسَانَ مَا لَم يَعلَم
“Bacalah dengan (menyebut) namaTuhanmu yang menciptaka, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan (peratara) kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”(al-Alaq : 1-5)
Al-Qur’an sendiri diberi nama al-Kitab yang berarti ‘tulisan yang tercatat dalam lembaran’, tersirat disini pentingnya menulis disamping membaca.[4] Perintah iqra’ mendorong agar umat manusia berfikir dan bertafakur mempergunakan potensi akalnya, sementara “al-qalam” menyeru mereka untuk menulis dan mencatat (mengikat makna dan memonumenkan gagasan).[5]
Encyclopedia Britanica menulis dibawah entri Muhammad bahwa al-Qur’an adalah Kitab yang paling luas dibaca manusia dimuka bumi.[6] Banyak ayat al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw. yang mendorong kita untuk membaca al-Qur’an dengan menjanjikan pahala dan pahala yang besar dengan membacanya itu.[7]
Allah swt. Berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (al-Qur’an) dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Faathir : 29-30)
      Abi Umamah mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda,[8]
      اِقرَعُوا القُرآنَ، فَإِنَّهُ يَأتِي يَومَ القِيَامَةِ شَفِيعًا لِأصحَابِهِ
“Bacalah al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat menjadi penolong bagi para pembacanya.”

B.     Cara Mengajar Peserta Didik MI Membaca dan Menulis Al-Qur’an
Salah satu kewajiban pendidik adalah mengajari anak didiknya khususnya anak MI (Madrasah Ibtidaiyah) agar dapat membaca membaca dan menulis al-Qur’an dengan baik dan benar. Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Utsman r.a bahwa Rasulullah bersabda,[9]

خَيرُكُم مَن تَعَلَّمَ القُرآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang memepelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Kita menyadari bahwa al-Qur’an dinarasikan dalam bahasa Arab yang memiliki kaedah dan tata aturan sendiri dalam menuliskannya. Sehingga jika proses balajar membaca dan menulis al-Qur’an telah dimulai sejak dini maka akan menghasilkan sosok muslim yang mampu membaca dan menulis al-Qur’an dengan baik, dan usia anak-anak sekolah di Madrasah Ibtidaiyah adalah masa yang sangat bagus untuk ditanamkan pembelajaran menulis al-Qur’an ini.
1.      Tahapan Mengajari Peserta Didik Menulis Al-Qur’an
a.      Menulis huruf-huruf hijaiyah secara terpisah dan tanda bacanya
Untuk dapat menulis al-Qur’an sebagai tahap awal, murid harus mampu menulis huruf-huruf hijaiyah terlebih dahulu. Dalam hal ini guru mengajarkan teknik menuliskan semua huruf hijaiyah yang baik dan tepat. Mulai dari huruf alif (ا) sampai dengan huruf ya’ (ي). Mulai dengan memberitahu bahwa menulis huruf arab harus dimulai dari tepi kanan, untuk menulis huruf alif (ا) dimulai dari atas kebawah, begitu seterusnya. Pembelajaran dilanjutkan dengan mengajarkan menulis huruf-huruf hijaiyah secara terpisah lengkap dengan tanda bacanya.[10]
b.      Menulis huruf-huruf hijaiyah secara bersambung dan tanda bacanya
Proses selanjutnya adalah murid diajarkan cara menulis huruf-huruf hijaiyah secara bersambung lengkap dengan tanda bacanya. Guru mengenalkan dan mengajarkan pada murid-murid huruf-huruf yang dapat disambung dan tidak dapat disambung. Baik disambung ketika berada diawal, ditengah, ataupun diakhir suatu lafadz/kata.[11]
c.       Menulis surat-surat juz‘amma sesuai tanda bacanya
Pada saat murid telah mampu untuk menulis dalam bentuk struktur kalimat, baik menulis perubahan bentuk maupun kalimat sederhana teks arab, proses terakhir dilanjutkan dengan mengajarkan cara menuliskan ayat-ayat al-Qura’an secara lengkap.[12] Dengan ini murid akan dapat mampu menuliskan ayat-ayat al-Qur’an dengan baik, tepat, dan rapi.

2.      Metode pembelajaran membaca al-qur’an
a.      Metode Qiraati
Metode qiraati adalahsuatu model dalam membaca al-Qur’an yang secara langsung (tanpa dieja) dan menggunakan atau menerapkan pembiasaan membaca tartil sesuai dengan kaidah tajwid.[13]
Prinsip-prinsip dasar metode qiraati : Langsung (tanpa dieja atau diuraikan). Sebagai contoh : bila A-Ba (أَ بَ ) tidak dieja alif fathah A ba’ fathah B = A-Ba. Kalimat yang dipakai sederhana, menunjuk pada realitas bentuk tulisan teks yang akan dibaca atau menghindarikalimat yang bersifat teoritik atau deskriptif. Gunakan kalimat : perhatikan ini ! bunyinya “بَ” (Ba), jangan mengatakan “yang bentuknya begini” , seperti ini adalah Ba. Mengajarkan bentuk huruf yang bersambung atau bergandeng, tidak diperkenankan mengatakan “ini huruf didepan, ini ditengah dan ini dibelakang”, katakana saja ini sama bunyinya. Apabila satu huruf bias berubah bentuknya seperti “جا,كا” maka katakan “جَ,كَ” memiliki bentuk yang beragam dan dibaca dengan cara yang sama.[14]
b.      Metode Iqro’
Metode iqro’ adalah metode pembelajaran membaca huruf-huruf hijaiyah dari permulaan dengan disertai aturan bacaan,tanpa makna dan tanpa lagu dengan tujuan agar pembelajar dapat membaca al-Qur’an sesuai dengan kaidahnya.[15]
Prinsip-prinsip dasar metode qiro’ : langsung dibaca atau langsung diajarkan menurut bunyi suaranya. Maka Alif bukan dijabarkan namanya ini huruf “Alif” melainkan diajarkan bunyi suaranya ‘a’ bagi yang bertanda fathah, ‘i’ bagi yang bertanda kasroh, dan’u’ bagi yang bertanda dhamah.[16]



                [1] Ahmad Syarifuddin, Mendidik Anak Membaca, Menulis, dan Mencintai al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2008), cetakan kedua, hlm., 17.
[2] Ibid., hlm., 20
[3] Ibid.
[4] Ibid., hlm., 21
[5] Ibid.
[6] Yusuf Al-Qaradhawi, Berinteraksi dengan al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 1999), hlm., 225.
[7] Ibid.
[8] Ibid., hlm., 226.
[9] Ibid., hlm., 215.
[10] http://sityjamah.blogspot.com/2014/05/pembelajaran-menulis-al-quran-dan-hadist., diakses pada tanggal 9 September 2017 pukul 17.05 WIB.
[11] Ibid.
[12] Ibid.
[14] Ibid.
[15] Ibid.
[16] Ibid.
Previous Post
Next Post

yang terbuka namun rahasia; ia hanya dapat dipahami melalui cinta; hanya dapat disentuk dengan kebaikan.

0 komentar:

Berkomentar yang bijak ya..