Konsep Dasar Membaca dan Menulis
al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah
MAKALAH
Disusun
guna Memenuhi Tugas BTQ (Baca Tulis al-Qur’an) Semester Gasal
Dosen
Pengampu : Abd. Kalim, M.Pd. I
Disusun
Oleh Kelompok 4 :
1. Indun
Latifah ( 1610310xxx )
2. Siti
Kholifah ( 1610310xxx )
3. Saily
Rohmah ( 1610310xxx )
4. Veni
Susilowati ( 1610310xxx )
5. Zulie
Khoirun Nisa ( 1610310xxx )
6. Halimatussa’diah ( 1610310xxx )
PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH
BTIDAIYAH - A
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
KUDUS
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Allah
menurunkan kitab –Nya yang kekal, al-Qur’an, agar dibaca oleh lidah-lidah
manusia, didengarkan oleh telinga mereka, ditadaburi oleh akal mereka, dan
menjadi ketenangan bagi hati mereka. Ulama menyebut definisi al-Qur’an sebagai
kitab yang menjadi ibadah dengan membacanya. Untuk itu dapat membaca al-Qur’an
merupakan salah satu kewajiban bagi setiap muslim, baik laki-laki ataupun
perempuan, muda ataupun tua. Belajar membaca al-Qur’an yang tepat adalah
sewaktu dini atau sewaktu anak-anak, layaknya “mengukir diatas batu”, bukanlah
belajar saat tua, karena itu sama saja seperti “mengukir diatas air”.
Mengajari
al-Qur’an yang paling efisien adalah ketika dini, yaitu ketika anak menginjak
jenjang MI ataupun SD. Pembelajaran Al-Qur’an pada Madrasah Ibtidaiyah,
menekankan proses kegiatan belajar yang berorientasi pada kemampuan dasar yang harus
dimiliki oleh seorang peserta didik terhadap al-Qur’an. Di antaranya adalah
kemampuan dalam membaca dan menulis.
Pembelajaran
Al-Qur’an pada hakekatnya adalah mengajarkan Al-Qur’an pada anak yang merupakan
suatu proses pengenalan Al-Qur’an tahap pertama dengan tujuan agar siswa
mengenal huruf sebagai tanda suara atau tanda bunyi. Yang paling penting dalam
pembelajaran membaca Al-Qur’an adalah keterampilan membaca Al-Qur’an dengan
baik sesuai dengan kaidah yang disususun dalam ilmu Tajwid.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaiman
anjuran dan pentingnya membaca dan
menulis al-Qur’an ?
2. Bagaimana
cara mengajar peserta didik MI membaca dan menulis al-Qur’an ?
C.
Tujuan
1. Mengetahui
anjuran dan pentingnya membaca dan
menulis al-Qur’an ?
2. Mengetahui cara mengajar peserta didik MI
membaca dan menulis al-Qur’an ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Anjuran
dan Pentingnya Membaca dan Menulis al-Qur’an
Kata al-Qur’an secara harfiah berarti
‘bacaan yang sempurna’ nama pilihan Allah bagi Kitab suci-Nya ini sungguh tepat
karena tiada satu bacaanpun sejak manusia mengenal baca-tulis lima ribu tahun
yang lalu yang dapat menandingi al-Qur’anul Karim, bacaan yang sempurna lagi
mulia itu.[1]
“Membaca” dalam aneka maknanya adalah
syarat pertama dan utama pengembangan ilmu dan teknologi serata syarat utama
membagun peradaban.[2]
Ilmu baik yang kasbi (acquired knowledge) maupun yang ladunni (abadi,
perennial) tidak dapat dicapai tanpa terlebih dahulu melakukan qiraat ‘bacaan’ dalam arti yang luas.[3] Ayat-ayat
yang awal mula diturunkan, yaitu perintah membaca dan menulis,
اِقرَأ بِاسمِ رَبِّك ِالَّذِي خَلَقَ ، خَلَقَ الاِنسَانَ مِن عَلَقٍ ،
اِقرَأوَرَبُّكَ الاَكرَمُ ، الَّذِي عَلَّمَ بِالقَلَمِ ، عَلَّمَ الاِنسَانَ مَا
لَم يَعلَم
“Bacalah dengan (menyebut) namaTuhanmu
yang menciptaka, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan
Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan (peratara) kalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”(al-Alaq
: 1-5)
Al-Qur’an sendiri diberi nama al-Kitab
yang berarti ‘tulisan yang tercatat dalam lembaran’, tersirat disini pentingnya
menulis disamping membaca.[4]
Perintah iqra’ mendorong agar umat
manusia berfikir dan bertafakur mempergunakan potensi akalnya, sementara
“al-qalam” menyeru mereka untuk menulis dan mencatat (mengikat makna dan
memonumenkan gagasan).[5]
Encyclopedia
Britanica menulis dibawah entri Muhammad bahwa al-Qur’an
adalah Kitab yang paling luas dibaca manusia dimuka bumi.[6] Banyak
ayat al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw. yang mendorong kita untuk membaca
al-Qur’an dengan menjanjikan pahala dan pahala yang besar dengan membacanya
itu.[7]
Allah
swt. Berfirman,
“Sesungguhnya
orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (al-Qur’an) dan mendirikan shalat
dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan
diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak
akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah
kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.”(Faathir : 29-30)
Abi Umamah mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda,[8]
اِقرَعُوا القُرآنَ، فَإِنَّهُ يَأتِي يَومَ القِيَامَةِ
شَفِيعًا لِأصحَابِهِ
“Bacalah
al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat menjadi penolong bagi para
pembacanya.”
B.
Cara
Mengajar Peserta Didik MI Membaca dan Menulis Al-Qur’an
Salah
satu kewajiban pendidik adalah mengajari anak didiknya khususnya anak MI
(Madrasah Ibtidaiyah) agar dapat membaca membaca dan menulis al-Qur’an dengan
baik dan benar. Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Utsman r.a
bahwa Rasulullah bersabda,[9]
خَيرُكُم
مَن تَعَلَّمَ القُرآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang
memepelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Kita menyadari bahwa al-Qur’an
dinarasikan dalam bahasa Arab yang memiliki kaedah dan tata aturan sendiri dalam
menuliskannya. Sehingga jika proses balajar membaca dan menulis al-Qur’an telah
dimulai sejak dini maka akan menghasilkan sosok muslim yang mampu membaca dan menulis
al-Qur’an dengan baik, dan usia anak-anak sekolah di Madrasah Ibtidaiyah adalah
masa yang sangat bagus untuk ditanamkan pembelajaran menulis al-Qur’an ini.
1.
Tahapan
Mengajari Peserta Didik Menulis Al-Qur’an
a. Menulis huruf-huruf hijaiyah secara terpisah dan
tanda bacanya
Untuk
dapat menulis al-Qur’an sebagai tahap awal, murid harus mampu menulis
huruf-huruf hijaiyah terlebih dahulu. Dalam hal ini guru mengajarkan teknik
menuliskan semua huruf hijaiyah yang baik dan tepat. Mulai dari huruf alif (ا) sampai dengan huruf ya’ (ي). Mulai dengan memberitahu bahwa menulis
huruf arab harus dimulai dari tepi kanan, untuk menulis huruf alif (ا) dimulai dari atas kebawah, begitu
seterusnya. Pembelajaran dilanjutkan dengan mengajarkan menulis huruf-huruf
hijaiyah secara terpisah lengkap dengan tanda bacanya.[10]
b. Menulis huruf-huruf hijaiyah secara bersambung dan
tanda bacanya
Proses
selanjutnya adalah murid diajarkan cara menulis huruf-huruf hijaiyah secara
bersambung lengkap dengan tanda bacanya. Guru mengenalkan dan mengajarkan pada murid-murid
huruf-huruf yang dapat disambung dan tidak dapat disambung. Baik disambung
ketika berada diawal, ditengah, ataupun diakhir suatu lafadz/kata.[11]
c. Menulis surat-surat juz‘amma sesuai tanda bacanya
Pada
saat murid telah mampu untuk menulis dalam bentuk struktur kalimat, baik
menulis perubahan bentuk maupun kalimat sederhana teks arab, proses terakhir
dilanjutkan dengan mengajarkan cara menuliskan ayat-ayat al-Qura’an secara
lengkap.[12]
Dengan ini murid akan dapat mampu menuliskan ayat-ayat al-Qur’an dengan baik,
tepat, dan rapi.
2. Metode pembelajaran membaca al-qur’an
a. Metode Qiraati
Metode
qiraati adalahsuatu model dalam membaca al-Qur’an yang secara langsung (tanpa
dieja) dan menggunakan atau menerapkan pembiasaan membaca tartil sesuai
dengan kaidah tajwid.[13]
Prinsip-prinsip
dasar metode qiraati : Langsung (tanpa dieja atau diuraikan). Sebagai contoh :
bila A-Ba (أَ بَ ) tidak dieja alif
fathah A ba’ fathah B = A-Ba. Kalimat yang dipakai
sederhana, menunjuk pada realitas bentuk tulisan teks yang akan dibaca atau
menghindarikalimat yang bersifat teoritik atau deskriptif. Gunakan kalimat :
perhatikan ini ! bunyinya “بَ” (Ba), jangan
mengatakan “yang bentuknya begini” , seperti ini adalah Ba. Mengajarkan bentuk
huruf yang bersambung atau bergandeng, tidak diperkenankan mengatakan “ini
huruf didepan, ini ditengah dan ini dibelakang”, katakana saja ini sama
bunyinya. Apabila satu huruf bias berubah bentuknya seperti “جا,كا” maka katakan “جَ,كَ”
memiliki bentuk yang beragam dan dibaca dengan cara yang sama.[14]
b. Metode Iqro’
Metode
iqro’ adalah metode pembelajaran membaca huruf-huruf hijaiyah dari
permulaan dengan disertai aturan bacaan,tanpa makna dan tanpa lagu dengan
tujuan agar pembelajar dapat membaca al-Qur’an sesuai dengan kaidahnya.[15]
Prinsip-prinsip
dasar metode qiro’ : langsung dibaca atau langsung diajarkan menurut bunyi
suaranya. Maka Alif bukan dijabarkan namanya ini huruf “Alif”
melainkan diajarkan bunyi suaranya ‘a’ bagi yang bertanda fathah, ‘i’
bagi yang bertanda kasroh, dan’u’ bagi yang bertanda dhamah.[16]
[3] Ibid.
[4] Ibid.,
hlm., 21
[5] Ibid.
[6] Yusuf
Al-Qaradhawi, Berinteraksi dengan al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani,
1999), hlm., 225.
[7] Ibid.
[8] Ibid.,
hlm., 226.
[10] http://sityjamah.blogspot.com/2014/05/pembelajaran-menulis-al-quran-dan-hadist., diakses pada
tanggal 9 September 2017 pukul 17.05 WIB.
[11] Ibid.
[12] Ibid.
[13] http://www.kompasiana.com/fuadjauhar/metode-pembelajaran-membaca-al-qur-an_, diakses pada
9 September 2017 pukul 17.04 WIB.
[14] Ibid.
[15] Ibid.
[16] Ibid.

0 komentar:
Berkomentar yang bijak ya..