Minggu, 25 November 2018

MAKALAH DASAR DAN TUJUAN PENDIDIKAN

DASAR DAN TUJUAN PENDIDIKAN
Disusun untuk Memenuhi Tugas Ilmu Pendidikan Semester Gasal
Dosen Pengampu: Dr. Sulton, M.Ag, M.Pd.

Disusun Oleh : Kelompok 02
1.         Diana Atika Tsary              (16103100xx)
2.         Sri Dewi Utami                  (16103100xx)
3.         Ummatul Markhumah        (16103100xx)
4.         Halimatussa’diah                (1610310xxx)

 


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN TARBIYAH PROGRAM STUDI PGMI
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu alat atau sarana bagi manusia untuk mengembangkan bakat, minat, keilmuan, serta pengetahuan yang dimiliki. Agar tercapai pendidikan yang baik, maka kita perlu mempelajari ilmu pendidikan. Ilmu pendidikan dapat membentuk watak, sifat, dan karakter seseorang. Selain itu, ilmu ini juga berguna bagi tenaga pendidik untuk menghasilkan siswa-siswi yang berkualitas dan berakhlak mulia.
Seperti halnya di Indonesia, banyak kita menjumpai berbagai kasus kekerasan guru terhadap murid hingga berakhir sang guru dihukum bui. Tak sedikit guru yang mengajarkan kedisiplinan dengan cara kekerasan dengan harapan siswa-siswinya mampu menjadi siswa yang terbaik. Namun hal ini justru menjadi kesalahan bagi guru karena minimnya ilmu pendidikan yang dimiliki. Untuk itu, kita harus mempelajari apa dan bagaimana dasar serta tujuan dari pendidikan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana dasar atau landasan pendidikan ?
2.      Bagaimana tujuan pendidikan ?

C.    Tujuan
1.      Mengetahui bagaimana dasar atau landasan pendidikan.
2.      Mengetahui bagaimana tujuan pendidikan.





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Dasar atau Landasan Pendidikan
Dalam menjalankan praktek pendidikan diperlukan adanya hal yang menjadi landasan, semua praktek dalam pendidikan didasarkan pada landasan yang jelas, mapan, dan kuat sehingga dapat dijadikan pegangan dalam menjalankan kegiatan pendidikan.[1]
1.      Landasan Hukum
Dalam melaksanakan pendidikan harus sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu pasal-pasal tentang pendidikan diantaranya pasal 31 yang berbunyi “Setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pendidikan”, kemudian Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional NO. 20 tahun 2003. Pada BAB II pasal 2 disebutkan bahwa, “Pendidikan nasional berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun1945”. Sedang pasal 3 berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab”.[2]
Pasal 31 UUD 1945, Bab II pasal 2 dan 3 UUSPN NO.20 tahun 2003 adalah dua dasar yang dapat dijadikan pijakan dalam melaksanakan kegiatan pendidikan. Semua pelaksanaan pendidikan harus memenuhi standar yang sudah ditentukan oleh pemerintah baik menyangkut isi pendidikan, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan.[3]

2.      Landasan Filosofis
Landasan ini didasarkan pada pandangan filsafat terutama filsafat pendidikan. Sebagai contoh pendidikan bertujuan untuk mencapai kedewasaan peserta didik, kata kedewasaan sebenarnya masih belum jelas maknanya kedewasaan dalam arti psikologis atau biologis, pedagogis ataukah sosiologis. Kedewasaan yang belum jelas ini akan dirumuskan dalam filsafat pendidikan.[4]
Karena urgensinya filsafat dalam pendidikan sebagai pencerah tentang makna pendidikan, tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan serta cara yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan pendidikan adalah rumusan pokok dalam pendidikan yang diberikan oleh filsafat. Dengan demikian pelaksanaan pendidikan harus didasarkan pada landasan filosofis ini.[5]
3.      Landasan Psikologis
Landasan psikologis berkaitan dengan dasar kejiwaan peserta didik, kehidupan mental, pikiran dan juga gejala perilaku pesera didik. Pendidikan dalam prakteknya selalu didasarkan pada teori-teori kejiwaan manusia, sebagaimana contoh anak akan tertawa ketika dalam hatinya senang dan sebaliknya mereka akan menangis bila hatinya merasa sedih. Menangis dan tertawa adalah perilaku sebagai respon terhadap suasana jiwanya.[6]
Dalam landasan psikologis ini perlu dibahas berkaitan dengan psikologi perkembangan, psikologi belajar, dan aspek-aspek individual dalam belajar. Dengan demikian terkait dengan pendidikan untuk memberikan pelajaran atau penanaman nilai-nilai dan perilaku atau melatih siswa semua akan berhasil bila didasarkan pada teori-teori tentang kejiwaan (psikologis).[7]

4.      Landasan Sosial Budaya
Proses sosialisasi adalah proses penyesuaian diri, dalam proses sosialisasi individu mengadopsi kebiasaan, sikap, dan ide-ide dari orang lain. Melalui belajar sosial akan membentuk personal sosial yang sebenarnya adalah proses terbentuknya kesetiaan sosial. Dalam kehidupan sosial akan selalu terjadi interaksi yang saling membutuhkan satu sama lain. Namun interaksi tersebut tidak boleh bertentangan dengan adat-istiadat, norma-norma, dan nilai yang berlaku.[8]
Di samping faktor sosial, dalam pendidikan juga berkaitan dengan budaya. Dalam konteks pembudayaan, pendidikan menjadi pusat kebudayaan. Dengan demikian, pendidikan merupakan bagian dari pranata sosial. Pendidikan sebagai pranata sosial berisi aturan-aturan yang harus ditaati oleh pendidik (guru) dan peserta didik (siswa) untuk tercapainya sistem norma.[9]
5.      Landasan Agama
Berawal dari adanya kelemahan dan tidak kemampuan manusia dalam menghadapi berbagai peristiwa dan bencana alam seperti banjir, badai, gunung meletus, gempa bumi, longsor, dan sebagainya membuat manusia percaya bahwa di balik semua bencana itu ada yang Maha Gaib Yang Menggerakkan, Yang Mengatur, dan Yang Maha Kuasa.[10]








B.     Tujuan Pendidikan
Proses  pendidikan terjadi dengan tujuan yang beragam. Tujuan pendidikan menurut tokoh-tokoh dalam aliran perenialisme sebagai berikut.
1.      Menurut Plato, tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar akan asas normatif dan melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan.[11]
2.      Menurut Aristoteles, tujuan pendidikan adalah membentuk kebiasaan pada tingkat pendidikan usia muda dalam menanamkan kesadaran menurut aturan moral.[12]
3.      Menurut Thomas Aquinas, tujuan pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur menjadi aktif atau nyata tergantung pada kesadarn tiap-tiap individu.[13]
Tujuan pendidikan menurut aliran rekonstruksionisme adalah menumbuhkan kesadarn terdidik yang berkaitan dengan masalah-masalah social, ekonomi, dan politik yang dihadapi manusia dalam skala global, dan memberikan keterampilan kepada mereka agar memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah tersebut.[14]
Sedangkan menurut Islam, tujuan pendidikan ialah membentuk manusia supaya sehat, cerdas, patuh dan tunduk kepada perintah Tuhan serta menjauhi larangan-larangan-Nya. Sehingga ia dapat berbahagia lahir batin, dunia akhirat.[15]



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan


B.     Saran
























DAFTAR PUSTAKA

Sulthon. 2011. Ilmu Pendidikan. Kudus: Nora Media Enterprise.
Gojali, Nanang. 2013. Tafsir & Hadis Tentang Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Ahmadi, Rulam. 2014. Pengantar Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Abu Ahmadi, Nur Uhbiyati. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Melton Putra.




[1] Sulthon, Ilmu Pendidikan,  (Kudus: Nora Media Enterprise, 2011), Cet.1. hlm., 39.
[2] Ibid., hlm., 39-40.
[3] Ibid., hlm., 40-41.
[4] Ibid., hlm., 41.
[5] Ibid., hlm., 42.
[6] Ibid., hlm., 43.
[7] Ibid., hlm., 43.
[8] Ibid., hlm., 50.
[9] Ibid., hlm., 51.
[10] Gojali,Nanang.Tafsir& Hadis Tentang Pendidikan(Bandung: Pustaka Setia,2013), Cet.1.hlm. 46.
[11] Rulam Ahmadi, Pengantar Pendidikan, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), cetakan ke-1,hlm., 46.
[12] Ibid.
[13] Ibid.
[14] Ibid., hlm. 46-47.
[15] Abu Ahmadi, Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Melton Putra), hlm., 99.
Previous Post
Next Post

yang terbuka namun rahasia; ia hanya dapat dipahami melalui cinta; hanya dapat disentuk dengan kebaikan.

0 komentar:

Berkomentar yang bijak ya..